Prof Effendy Gazali Skakmat Dedek Prayudi Soal Ijazah Jokowi dan Gibran: Yang Bikin Capek Siapa?

PORTALUTAMA.NET – Pakar komunikasi politik Prof Effendy Gazali menanggapi pernyataan politikus PSI Dedek Prayudi yang menyinggung polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Effendy mempertanyakan pihak yang sebenarnya membuat masyarakat lelah dengan persoalan tersebut.
Sebelumnya, Dedek Prayudi menilai polemik ijazah Jokowi dan Gibran menyita energi bangsa. Menurut dia, Indonesia seharusnya lebih berfokus pada persoalan yang produktif dan konstruktif dibandingkan terus memperdebatkan masalah ijazah.
“Bangsa lain itu sudah memikirkan landing dan bahkan membuat tempat tinggal di bulan. Bangsa lain itu sudah produksi EV, electric vehicle dan lain sebagainya. Indonesia ini sudah setahun dua tahun belakangan ini masih ngeributin ijazah, habis bapaknya, sekarang anaknya dan lain sebagainya,” kata Dedek Prayudi dikutip dari tayangan Suara Nusantara, Jumat (16/10/2026).
Dedek berharap energi masyarakat Indonesia dapat dialihkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
“Kan capek juga kita, semoga energi kita itu next-nya tersalurkan ke kanal-kanal yang lebih produktif dan konstruktif,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari Prof Effendy Gazali. Ia justru mempertanyakan siapa yang membuat persoalan ijazah itu terus menjadi perdebatan.
“Yang bikin capek itu siapa? Iya kan? Kalau ditunjukkan saja, selesai kok,” tegas Effendy.
Effendy menilai persoalan tersebut tidak semestinya dialihkan dengan membandingkan perkembangan teknologi negara lain, seperti eksplorasi bulan dan produksi kendaraan listrik.
Menurutnya, masih ada persoalan lain di Indonesia yang membutuhkan perhatian serius, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Jangan Anda bicara orang sudah sampai ke bulan, kita belum berhasil karhutla, dan lainnya segala macam,” ujarnya.
Effendy juga menegaskan bahwa pihaknya tidak sekadar mencari sensasi dengan mengangkat persoalan ijazah tersebut. Ia mengaku sedih apabila langkah yang dilakukan dianggap hanya sebagai upaya mencari perhatian publik.
“Saya menjawab sekarang, wah sedih juga loh kita ya, kalau dianggap ini cuma main-main aja, mau nyari sensasi dan lain sebagainya,” katanya.
Lebih lanjut, Effendy memaparkan alasan yang menurutnya mendasari upaya penyampaian aspirasi masyarakat kepada DPR. Dirinya mengutip pandangan Sobari mengenai pentingnya moral politik dan moral publik dalam menerima masukan dari masyarakat.
“Atas dasar moral politik dan moral publik apa DPR ini tidak mau menerima rakyat yang menyampaikan masukan? Atas dasar apa?” ucap Effendy.
Source link
