News

Guru Besar Unhas Titip 8 Pesan untuk Kapolda Sulsel Baru: Jangan Biasakan Makassar dengan Kekerasan



PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Pergantian pucuk pimpinan Polda Sulsel menjadi momentum untuk memperkuat arah penegakan hukum dan menjaga keamanan masyarakat.

Guru Besar Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Amir Ilyas, menitipkan sejumlah pesan kepada Irjen Pol Awal Chaeruddin, Kapolda Sulsel yang baru, menggantikan Irjen Pol Djuhandhani Rahardjo Puro.

Menurutnya, keberhasilan kepolisian tidak semestinya hanya dilihat dari banyaknya perkara yang berhasil diungkap maupun jumlah pelaku yang ditangkap.

Ia menilai ukuran yang lebih penting adalah kemampuan kepolisian mencegah kejahatan, meredam konflik sebelum berkembang menjadi kekerasan, serta menghadirkan rasa aman di tengah masyarakat.

Prof Amir: Jangan Ukur Keberhasilan dari Jumlah Penangkapan

Prof Amir mengingatkan agar Kapolda baru tidak menjadikan jumlah pengungkapan perkara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan institusi kepolisian.

“Jangan membangun ukuran keberhasilan kepolisian hanya berdasarkan jumlah pengungkapan perkara,” ujar Prof Amir kepada fajar.co.id, Sabtu (3/9/2026).

Ia menegaskan, Polisi memang harus menangkap pelaku kejahatan, tetapi keberhasilan penegakan hukum tidak berhenti pada penangkapan.

“Yang lebih penting adalah apakah kejahatan dapat dicegah, apakah konflik dapat dihentikan sebelum pecah, dan apakah masyarakat memperoleh kembali rasa aman,” tukasnya.

Prof Amir berharap Kapolda baru memberikan perhatian lebih terhadap kemampuan polisi membaca potensi gangguan keamanan sejak dini.

“Kedua, saya berharap Kapolda baru memperkuat fungsi intelijen sebagai mata kepolisian,” ucap dia.

“Polisi modern tidak boleh selalu datang setelah kejahatan terjadi. Polisi harus mampu membaca gejala sebelum konflik berubah menjadi kekerasan,” imbuhnya.

Kata dia, kemampuan mendeteksi gejala awal menjadi penting, terutama untuk mencegah konflik sosial berkembang menjadi bentrokan dan tindak kekerasan.

Prof Amir: Jangan Biarkan Kekerasan Dianggap Biasa

Tidak berhenti di situ, Prof Amir juga memberi perhatian khusus terhadap fenomena kekerasan jalanan yang terjadi berulang.

“Ketiga, jangan biarkan Makassar menjadi kota yang normal dengan kekerasan. Ini sangat berbahaya,” lanjutnya.

Ia mengingatkan agar Makassar tidak sampai terbiasa dengan tawuran, perang kelompok maupun bentuk kekerasan lainnya.

“Kalau tawuran, perang kelompok, penggunaan senjata tajam, pengeroyokan, balapan liar, pemalakan, atau kekerasan jalanan terlalu sering terjadi,” Prof Amir menuturkan.

“Lama-kelamaan masyarakat dapat mengalami apa yang dalam kriminologi disebut normalisasi kekerasan. Orang tidak lagi terkejut ketika melihat kekerasan,” tambahnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *