Singgung Proyek Ambisius MBG dan KDMP, Guntur Romli PDIP: Purbaya Dipecat atau Dikorbankan?

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pemecatan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan sebagai Menteri Keuangan (Menkeu), terus menuai pro dan kontra. Ada yang melihat proses tersebut janggal meski sejumlah pihak juga menilai langkah itu sebagai hal yang sudah tepat.
Juru Bicara PDI Perjuangan, Mohamad Guntur Romli turut mengomentari pemencatan Purbaya dari kursi Menkeu. Dia justru menaruh pertanyaan besar terkait keputusan Presiden Prabowo Subianto tersebut. “Purbaya dipecat atau dikorbankan?” katanya dikutip dari unggahan video di media sosialnya.
Dia lantas menjelaskan peristiwa sebelum pemecatan tersebut dilakukan presiden. Dia menyebut, ada kronologi empat hari untuk memahami Purbaya dipecat.
“Hanya empat hari, jarak antara Menteri Keuangan Purbaya melantik hampir 400 pejabat Kementerian Keuangan pada 10 September, dengan dirinya sendiri dipecat Presiden Prabowo pada 14 September,” kata Guntur Romli.
Peristiwa pelantikan ratusan pejabat Kemenkeu oleh Purbaya yang berjarak empat hari proses pemecatannya itu, sebagai sebuah kejanggalan waktu, dan hal itu menurutnya bukan sekadar kebetulan administratif.
“Itu jejak dari pertarungan yang kalah. Purbaya sendiri mengaku sudah menduga 50-50 kemungkinan dirinya akan diganti. Pengakuan yang menunjukkan ia tahu sesuatu sedang terjadi jauh sebelum kabar resmi pemecatan itu datang,” kata Guntur Romli.
Rotasi ratusan pejabat Kemenkeu itu disebut-sebut memicu gesekan dengan Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai. Sampai-sampai kedua pejabat tingkat dirjen tersebut tidak mengikuti seremoni pelantikan tersebut.
Menurut Guntur Romli, ketidakhadiran kedua dirjen tersebut menjadi pertanda bahwa itu bukan resistensi biasa, namun menjadi sinyal kuat bahwa ada pejabat internal Kementerian Keuangan yang memiliki jalur langsung ke pusat kekuasaan yang cukup kuat, sehingga membuat menteri yang mengangkat mereka justru tersingkir lebih dulu.
“Purbaya kalah bukan karena salah kebijakan, tapi karena kalah akses. Sisi lainnya lebih getir, Purbaya mewarisi beban fiskal dari proyek-proyek prioritas presiden yang terus menampakkan tanda kegagalan,” jelas Guntur Romli.
Proyek yang disebutnya memiliki tanda kegagalan itu mulai dari Proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki target 27 ribu dapur atau SPPG, hingga Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dengan target 24 ribu kantor.
“Program-program ambisius itu menuntut ruang fiskal yang tidak realistis, dan ketika angkanya tidak ketemu, siapa yang disalahkan? Bukan desain programnya, tapi Menteri Keuangannya,” sebut Guntur Romli.
Source link
