News

Telah Lahir Pasinrilik Perempuan Pertama: Tiga Srikandi Muda Penjaga Seni Tutur Makassar di Gowa



PORTALUTAMA.NET, GOWA — Jari-jemari tiga gadis muda itu tampak lihai menari di atas dawai kesok-kesok di Sanggar Seni Antara Nusantara, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Jumat (4/9/2026) lalu. Alunan nada mendayu-dayu mengiringi sastra tutur yang mengisahkan kepahlawanan Sultan Hasanuddin.

Meski tergolong baru belajar, mereka tampil piawai sebagai pasinrilik (penutur sinrilik). Bahkan, ketiganya sudah menjajal panggung program “Apresiasi Budaya” TVRI Sulawesi Selatan hingga tampil di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.

Tiga srikandi tersebut adalah St. Rahmadani Syam (Rahma) dan St. Magfirah Syam (Firah)—kembar kelahiran Makassar, 2 September 2008 yang kini berkuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNM—serta Fahirah Humairah (Fahirah), siswi kelas 2 SMPN 2 Bajeng kelahiran Samarinda, 13 Agustus 2012.

Maestro Pasinrilik, Haeruddin Daeng Nassa, menyebut ketiganya sebagai pasinrilik baine (perempuan) pertama di Sulawesi Selatan yang bertutur sekaligus memainkan alat musik.

“Dahulu pernah ada pasinrilik perempuan di Gowa, tapi hanya bertutur tanpa memainkan kesok-kesok,” ungkap Daeng Nassa.

Bermula dari Rasa Penasaran

Awal keterlibatan mereka berawal dari dibukanya Sekolah Sinrilik Angkatan I pada 2 Mei 2026 oleh pendiri sanggar, Indar Jaya. Rahma yang awalnya aktif sebagai penari di sanggar tersebut mengaku penasaran saat pertama kali melihat kesok-kesok milik Daeng Nassa.

Kesok-kesok merupakan alat musik gesek khas Makassar sejenis rebab berbadan kayu nangka dan berselaput kulit kambing. Dua senarnya digesek menggunakan busur berambut ekor kuda, menghasilkan nada lembut yang khas.

“Hati saya adem begitu Daeng Nassa memainkan kesok-kesok. Dari situ saya makin penasaran ingin coba,” tutur Rahma.

Proses belajar tentu tak instan. Pada tahap awal, peserta diajarkan teknik memegang instrumen, posisi tangan, menggesek, hingga menyelaraskan melodi dengan tuturan cerita. Latihan intensif digelar tiga kali sepekan: Jumat, Sabtu, dan Ahad.

“Tantangan terberatnya menyelaraskan antara gesekan jari dan ritme tuturan cerita sejarah,” tambah Rahma.

Kendala teknis juga dialami Fahirah di awal latihan. “Awalnya sulit sekali mengeluarkan bunyinya, suaranya garese (fals/berkeresek). Tapi karena latihan terus, akhirnya bisa,” seloroh Fahirah yang disambut tawa rekannya.

Regenerasi Budaya Lewat Anak Muda

Kehadiran tiga gadis asal Dusun Sileo 1, Desa Paraikatte ini membawa angin segar bagi kelestarian sinrilik—seni tutur lisan berbahasa Makassar yang kian langka dimainkan generasi muda.

Keberanian mereka membuahkan hasil manis saat tampil di layar TVRI Sulsel pada 13 Juni 2026 yang dipandu presenter kenamaan Willy “Opa” Ferial, disaksikan langsung oleh orang tua mereka.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *