Dito Ariotedjo Bersaksi Soal Kuota Haji Tambahan 20 Ribu, Apa Saja yang Dibeberkan?
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Dito Ariotedjo mengungkap keterlibatannya saat mendampingi Presiden Joko Widodo dalam pertemuan bilateral dengan Kerajaan Arab Saudi pada akhir 2023. Dalam pertemuan itu, isu haji turut dibahas, termasuk permintaan Indonesia terkait tambahan kuota haji.
Dito menyampaikan hal itu saat bersaksi dalam sidang perkara dugaan korupsi pengelolaan tambahan kuota haji 2023-2024 di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (10/09/2026). Dito diminta bersaksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi untuk terdakwa mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas dan terdakwa lainnya.
Dalam persidangan, jaksa penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan apakah Dito pernah mendampingi Jokowi dalam pertemuan kepala negara Indonesia dan Arab Saudi.
“Apakah benar Bapak dalam jabatan Menpora itu pernah menemani Presiden Republik Indonesia yang saat itu dijabat oleh Pak Joko Widodo dalam rangka pelaksanaan pertemuan kepala negara antara Indonesia dan Arab Saudi?” tanya jaksa.
“Betul,” jawab Dito.
Dito kemudian menyebut pertemuan tersebut berlangsung sekitar Oktober-November 2023. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara detail seluruh pembahasan yang dilakukan kedua kepala negara. Menurut Dito, sejumlah isu yang dibahas dalam pertemuan bilateral antara lain olahraga, perdagangan, energi, terorisme, hingga badan halal.
“Yang kami dampingi Bapak Presiden sesuai yang ada kerja sama dengan, diminta oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, salah satunya ada olahraga, ada perdagangan, energi, dan kalau tidak salah terorisme juga dan badan halal,” kata Dito.
Jaksa kemudian mengorek lebih jauh apakah dalam pertemuan tersebut terdapat pembicaraan spesifik mengenai pelaksanaan ibadah haji bagi jemaah Indonesia. Dito membenarkan isu haji dibicarakan, tetapi ia menegaskan dirinya tidak mengikuti pembahasan secara detail.
“Sebenarnya untuk spesifik tidak ada, itu terjadi pada saat makan siang. Pada saat agenda terakhir,” ujar Dito.
Dito menjelaskan pembicaraan petinggi negara itu terjadi ketika agenda utama pertemuan telah selesai. Saat itu, Raja Arab Saudi disebut kembali menanyakan poin-poin konkret yang menjadi fokus kedua negara.
“Saya tidak ada, itu hanya pada saat itu yang saya dengar dan ikuti karena pertemuan sudah selesai, dari Raja Arab menanyakan kembali kira-kira poin-poin apa saja yang harus menjadi fokus konkret dari pertemuan kedua pimpinan negara tersebut,” kata Dito.
Ketika ditanya jaksa apakah Dito mengetahui latar belakang pembahasan mengenai haji, termasuk persoalan panjangnya antrean jemaah haji Indonesia, Dito mengaku tidak mengetahui. Ia hanya mengetahui bahwa Kerajaan Arab Saudi menawarkan tambahan kuota kepada Indonesia sebagai bagian dari hasil pembicaraan bilateral.
“Yang saya tahu memang dari Raja menawarkan dan memberikan untuk tambahan. Tapi tidak hanya sebatas kuota, tapi ada berbagai sektor lain yang seperti investasi, perdagangan, dan lain sebagainya,” kata Dito.
Jaksa kemudian menanyakan berapa jumlah tambahan kuota yang diberikan Arab Saudi dalam pertemuan tersebut. Namun, Dito kembali menegaskan tidak mengetahui angka tersebut karena pembahasan teknis dilakukan setelah pertemuan kepala negara.
“Tidak ada jumlah itu, kan ada rapat teknis lanjutan yang lagi,” ujarnya.
Jaksa kembali memastikan apakah Dito tidak mengetahui atau memang tidak ikut dalam pembahasan lanjutan tersebut. “Tidak ikut karena kan itu bukan ranah kami,” jawab Dito.
Meski demikian, Dito membenarkan bahwa terdapat pembicaraan antara kedua negara mengenai persoalan haji dan adanya rencana penambahan kuota.
Dito juga mengaku kemudian mengetahui bahwa Indonesia memperoleh tambahan kuota haji sebanyak 20 ribu untuk pelaksanaan haji 2024. Menurutnya, pengumuman mengenai tambahan kuota tersebut disampaikan sehari setelah pertemuan kepala negara.
“Itu kalau nggak salah diumumkan sehari setelah pertemuan. Itu kan ada rapat lanjutannya, karena saat itu kalau tidak salah Menteri Agama tidak ada, itu diwakilkan oleh Menteri Luar Negeri,” kata Dito.
Dalam persidangan, jaksa kemudian memutar video pernyataan Presiden Jokowi yang disampaikan melalui kanal YouTube Sekretariat Negara. Dalam video tersebut, Jokowi menyampaikan bahwa dirinya telah membicarakan panjangnya antrean haji di Indonesia kepada Raja Arab Saudi.
“Saya menyampaikan kepada beliau bahwa antrean haji di Indonesia sangat panjang, bahkan ada yang harus menunggu 47 tahun, sehingga Indonesia membutuhkan tambahan kuota haji,” demikian potongan pernyataan Jokowi yang diputar dalam persidangan.
Jokowi dalam pernyataan tersebut menyebut permintaan Indonesia mendapat respons positif dari pihak Arab Saudi. Bahkan, komitmen tambahan kuota disebut diberikan dalam waktu kurang dari 12 jam.
“Alhamdulillah ditanggapi sangat positif, dan kurang dari 12 jam komitmen tambahan kuota haji langsung diberikan paling tidak 20 ribu,” lanjut Jokowi dalam rekaman video itu.
Jaksa kemudian meminta konfirmasi kepada Dito mengenai pernyataan tersebut. “Betul begitu ya. Bapak Presiden mengumumkan secara terbuka bahwa Indonesia mendapatkan kuota tambahan 20 ribu,” tanya Jaksa.
“Betul,” jawab Dito.
Namun, Dito kembali menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui proses teknis setelah keputusan tersebut, termasuk bagaimana kuota tambahan 20 ribu itu kemudian ditindaklanjuti.
Dalam pemeriksaan berikutnya, jaksa menggali komunikasi Dito dengan Fuad Hasan Mansur selaku pemilik PT Maktour Travel setelah pengumuman tambahan kuota haji. Dito mengaku mengenal Fuad. Menurut dia, Fuad sempat menghubunginya setelah adanya pengumuman mengenai tambahan kuota.
“Ya, memang setelah ada presscon, beliau sempat kontak saya, menanyakan,” kata Dito.
Fuad, kata Dito, hanya menanyakan kepastian mengenai tambahan kuota tersebut.
“Bahasa beliau saat itu, bahasa seperti apa?” tanya jaksa.
“Hanya bertanya aja itu benaran atau udah pasti atau gimana gitu. Saya hanya menyampaikan, iya pasti, nanti selanjutnya teknisnya di Kementerian Agama,” jawab Dito.
Jaksa kemudian menanyakan apakah Dito mengetahui Fuad pernah menemui Yaqut untuk menindaklanjuti informasi tersebut. Dito mengaku baru mengetahui adanya pertemuan setelah pertemuan tersebut muncul dalam pemberitaan.
“Saya baru mengetahuinya setelah ada pertemuan resmi dan ada di berita, tapi saya tidak pernah mengetahui perencanaan dan lain-lainnya,” kata Dito.
Ketika ditanya apakah Fuad pernah menemui Yaqut sebelum 2024 untuk membahas tambahan kuota 20 ribu, Dito menjawab tidak mengetahui secara pasti.
“Saya nggak tahu. Kayaknya nggak pernah. Saya nggak tahu,” ujarnya.
Dito kemudian membacakan kembali substansi keterangannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Dalam BAP tersebut, Dito menyatakan dirinya pernah menyampaikan kepada Fuad bahwa terdapat pembahasan penambahan kuota haji.
“Saat itu saya kemudian menyampaikan kepada Fuad Hasan Mansur bahwa benar ada pembahasan terkait penambahan kuota dan telah disetujui oleh Perdana Menteri Arab Saudi. Namun tidak dibahas jumlah kuota yang diberikan oleh Kerajaan Arab Saudi. Selain itu saya juga sampaikan kepada Fuad Hasan Mansur terkait teknis penambahan kuota akan ditindaklanjuti lebih lanjut oleh Menteri Agama, dalam hal ini adalah Yaqut Cholil Qoumas,” demikian isi BAP yang dikonfirmasi Jaksa.
Dito membenarkan keterangannya tersebut. Ia kemudian mengatakan, sepanjang pengetahuannya, Fuad Hasan Mansur hanya pernah bertemu Yaqut satu kali.
“Sepengetahuan saya, Fuad Hasan Mansur hanya pernah bertemu sekali dengan Menteri Agama. Itu sekitar tahun 2024. Merupakan pertemuan pertamanya itu pada waktu pertemuan dengan Forum 1 yang foto-fotonya viral di media,” kata Dito.
Pertemuan itu, menurut Dito, berlangsung secara resmi di kantor Kementerian Agama dan Fuad hadir bersama sejumlah asosiasi Forum Shatu.
Namun, ketika jaksa menunjukkan foto lain yang memperlihatkan Fuad bersama Yaqut, Dito menyebut lokasi pertemuan berada di kantor Maktour.
“Ini di kantor Maktour,” kata Dito.
Dito mengaku tidak mengetahui kapan pertemuan tersebut berlangsung. Ia baru mengetahui keberadaan foto itu setelah viral di media.
“Setahu saya ini setelah beliau udah nggak di kabinet. Saya nggak tahu sih. Saya baru tahu kan pas viral ini foto,” ujarnya.
