KDM Punya Elektabilitas Tinggi dan Berpeluang Jadi Pemimpin Nasional, Kader PSI: Metode Pendekatan Politiknya Blusukan

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Salah satu kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka memberi responsnya terkait sosok Dedi Mulyadi.
Menurut Dedy Nur, sosok Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi punya peluang besar untuk maju sebagai pemimpin nasional atau presiden.
Ada gaya-gaya kepemimpinan yang disebutnya cocok dan bisa membuat Dedi Mulyadi bisa menjadi sosok presiden di masa mendatang.
“Beliau ini juga punya peluang besar untuk menjadi pemimpin nasional, namanya KDM,” tulis Dedy Nur di salah satu cuitan di media sosial X pribadinya dikutip Selasa (8/9).
Pedekatan Politik Jokowisme
Lebih jauh, Dedy Nur menyebut KDM sapaan Gubernur Jabar itu ada kemiripan dengan mantan Presiden Indonesia dua periode yaitu Joko Widodo.
Menurutnya KDM dan Jokowi sama-sama punya pendekatan politik yang disebut Dedy Nur Jokowisme atau blusukan langsung.
Ia pun menyakini gaya seperti ini bisa membawa sosok Dedi Mulyadi jadi kandidat kuat presiden di pemilu 2029 mendatang.
“Metode pendekatan politiknya “Jokowisme” atau biasa kita kenal blusukan.
Bagaimana menurutmu,” terangnya.
Elektabilitas yang Tinggi
Terbaru, tingginya elektabilitas Dedi Mulyadi yang disebut melampaui sejumlah tokoh nasional, termasuk Presiden Prabowo Subianto, membuat peluangnya masuk dalam bursa calon pemimpin nasional semakin diperhitungkan.
Dalam simulasi calon presiden yang dilakukan Tempo Data Science, Dedi Mulyadi tercatat memperoleh elektabilitas sebesar 43 persen.
Sementara itu, Prabowo Subianto berada cukup jauh di belakang dengan 15 persen. Anies Baswedan memperoleh 10 persen, sedangkan Gibran Rakabuming Raka sebesar 6 persen.
Jurnalis senior Hersubeno Arief menilai peluang Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berpindah partai dari Partai Gerindra ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) demi menghadapi Pilpres 2029 bukan sesuatu yang mustahil.
Menurut Hersubeno, posisi Dedi Mulyadi di Gerindra berpotensi menjadi sorotan karena elektabilitasnya disebut lebih tinggi dibanding Presiden Prabowo Subianto.
Kondisi tersebut dinilai dapat memunculkan dinamika politik tersendiri di internal partai.
Hersubeno kemudian mengingatkan rekam jejak perpindahan partai yang pernah dilakukan Dedi Mulyadi. Sebelum bergabung dengan Gerindra, Dedi diketahui pernah menjadi kader Partai Golkar.
“Enggak mungkinlah ya kalau terus-menerus seperti itu. Tetapi tidak mungkin pula ini Dedi Mulyadi diam begitu saja memanfaatkan kesempatan. Kita masih ingat ya ketika dia sebelumnya lompat dari Partai Golkar, kemudian dia lompat ke Partai Gerindra,” jelasnya. (Erfyansyah/fajar)
Source link
