Hujan Buatan Tak Bisa Sembarangan, Jangan Sampai Miliaran Rupiah Terbuang

PORTALUTAMA.NET, TANGERANG SELATAN — Anggota Komisi V DPR RI Fraksi Partai Golkar, Hamka B Kady mengingatkan pemerintah agar pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menghasilkan hujan buatan dilakukan secara terukur.
Menurut Hamka, penyemaian awan tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan permintaan atau perkiraan cuaca. Sebelum pesawat diterbangkan untuk melakukan penyemaian, kondisi awan harus terlebih dahulu disurvei dan dianalisis oleh tenaga ahli.
Hal itu dinilai penting untuk memastikan terdapat awan yang memiliki kandungan air sehingga proses penyemaian dapat berlangsung efektif.
“Persoalannya sekarang, masalah penyemaian atau menciptakan hujan buatan itu tidak mudah. Harus dilihat dulu di mana kumpulan awan yang mengandung hujan, kemudian diteliti,” kata Hamka di Tangerang Selatan, Banten, dikutip pada Senin (31/8/2026).
Legislator asal Sulawesi Selatan ini mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan dalam pelaksanaan TMC. Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan adanya kemungkinan fenomena El Nino berlangsung dalam waktu cukup panjang.
“BMKG sudah menyampaikan kepada kita bahwa El Nino ini kemungkinan panjang. Bahkan, bisa sampai tahun berikutnya dan baru selesai awal Januari 2027,” ujar Hamka.
Hamka menjelaskan, keberadaan awan belum otomatis berarti teknologi modifikasi cuaca dapat diterapkan. Awan yang akan disemai harus memenuhi kondisi tertentu, terutama memiliki kandungan air yang memungkinkan terjadinya hujan.
Setelah awan yang sesuai ditemukan melalui survei dan analisis, barulah pesawat dapat diterbangkan untuk menaburkan bahan penyemai ke dalam atau di atas awan tersebut.
“Yang penting dilihat dulu, dianalisis dulu, awan-awan ini mengandung air atau tidak. Kalau itu mengandung air, teknologi yang kemudian dipakai adalah menerbangkan itu di atas awan untuk menyemai, sehingga menciptakan hujan,” jelas Anggota DPR RI tiga periode itu.
Sebaliknya, apabila tidak terdapat awan dengan kandungan air yang memadai, proses penyemaian dinilai tidak akan efektif.
“Tetapi kalau awannya tidak ada yang mengandung unsur air, bagaimana mungkin? Secara teknologi itu tidak bisa,” ujar Hamka.
Karena itu, Hamka meminta pelaksanaan modifikasi cuaca tidak dilakukan secara sembarangan. Menurut dia, pemerintah perlu melibatkan BMKG dan tenaga ahli untuk menentukan lokasi serta waktu yang tepat sebelum operasi penyemaian dilakukan.
Selain persoalan teknis, Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI itu juga menyoroti besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca.
Source link
