News

Pidato Prabowo soal Ibu Susanah Jadi Bahan Ejekan, Ferdinand: Kapan Kita Jadi Manusia yang Fokus pada Persoalan Bangsa?



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Polemik mengenai pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI terkait data seorang warga yang disebut mendapat upah Rp700 ribu per kilogram untuk mengupas bawang masih menjadi perbincangan.

Di tengah perhatian publik dan olok-olok yang muncul, politikus PDIP Ferdinand Hutahaean justru meminta masyarakat tidak terjebak pada persoalan tersebut.

Ferdinand menganggap kesalahan penyebutan atau pembacaan data tidak seharusnya membuat pembahasan mengenai persoalan bangsa bergeser menjadi bahan ejekan terhadap kepala negara.

Ferdinand Sesalkan Respons Publik

Ferdinand menyesalkan reaksi sebagian masyarakat yang menurutnya terlalu berlebihan dalam menyikapi pernyataan Prabowo.

Ia bahkan menilai fenomena tersebut menunjukkan persoalan pada cara masyarakat memandang sebuah kesalahan dalam pidato.

“Aku rasa memang kita ini sudah banyak yang makin sakit, makin tidak jelas mentalnya,” ujar Ferdinand dikutip fajar.co.id, Minggu (16/8/2026).

Kata Ferdinand, persoalan yang terjadi sebenarnya sederhana, yakni Presiden diduga keliru ketika menyampaikan data dalam pidatonya.

“Presiden hanya salah baca saja soal data, upah tukang, kupas bawang, ributnya, minta ampun,” tukasnya.

Minta Presiden Tidak Jadi Bahan Olok-olok

Ferdinand kemudian menyentil berbagai respons publik yang menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan candaan maupun olok-olok.

“Ada saja yang mengolok-olok Presiden,” tegasnya.

Ia membandingkan respons tersebut dengan sikap masyarakat di sejumlah negara maju ketika pemimpinnya melakukan kesalahan dalam menyampaikan data.

“Bahkan kalau di luar sana negara-negara yang maju, kalau pemimpinnya salah kutip, itu mereka mengerti, oh itu salah kutip,” timpalnya.

Ferdinand berujar, kesalahan membaca atau menyampaikan informasi bukan sesuatu yang layak dijadikan alasan untuk mengabaikan persoalan yang jauh lebih besar.

Kesalahan Membaca Lumrah di Setiap Kegiatan

Untuk menggambarkan bahwa kesalahan dalam membaca sesuatu dapat terjadi pada siapa saja, Ferdinand bahkan menyinggung pembacaan ayat suci.

“Jangankan baca data pidato, baca ayat suci saja sering salah,” imbuhnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kesalahan tersebut sebagai bahan utama perdebatan.

Ferdinand berharap masyarakat dapat mengalihkan perhatian kepada isu-isu yang menurutnya lebih penting bagi kehidupan bangsa.

“Lah kok kita ini kok senangnya aduh mengolok-olok gitu loh, kapan kita ini menjadi manusia-manusia yang bisa gitu loh, fokus kepada substansi persoalan bangsa,” terangnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *