Ade Armando Bongkar Motif Eks Wakil Menteri Sayembara Ijazah Gibran hingga Ratusan Juta

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI), Ade Armando, mempertanyakan motif di balik sayembara yang digelar pakar hukum tata negara, Prof Denny Indrayana, untuk menemukan ijazah SMA atau sederajat milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ade menduga langkah Denny tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan dokumen pendidikan Gibran. Ia menilai ada kemungkinan Denny tengah berupaya kembali mendapatkan perhatian publik.
“Denny Indrayana mungkin sedang pansos alias panjat sosial. Dia nampaknya merasa dirinya sudah tidak lagi populer,” ujar Ade, dikutip Fajar.co.id, Senin (17/8/2026).
Menurut Ade, popularitas tokoh publik dapat mengalami pasang surut. Ia menduga polemik ijazah Gibran menjadi momentum bagi Denny untuk kembali menjadi perhatian masyarakat.
“Karena itu dia melakukan segala cara untuk membuat orang mengingatnya kembali,” katanya.
Ade juga menyoroti nominal hadiah dalam sayembara tersebut. Ia menyebut mantan wakil menteri Hukum dan HAM itu menawarkan hadiah yang tidak kecil bagi pihak yang dapat menunjukkan ijazah SMA Gibran.
“Dia menawarkan hadiah Rp100 juta (saat ini Rp300 juta lebih) bagi siapapun yang bisa menunjukkan ijazah SMA Gibran. Dia tentu saja serius,” ujar Ade.
Ade bahkan menyebut nominal hadiah tersebut sebelumnya dikabarkan lebih besar. Menurut dia, Denny sempat menawarkan hadiah hingga Rp1 miliar.
“Semula dia menawarkan Rp1 miliar, siapapun yang bisa menunjukkan ijazah SMA Gibran,” katanya.
Namun, mantan Politisi PSI itu menyebut nominal itu kemudian diturunkan setelah mendapat pertimbangan dari keluarga Denny.
“Tapi kemudian terpaksa dia turunkan karena istrinya bilang angka Rp1 miliar itu kemahalan,” ujar Ade.
Di tengah polemik tersebut, Ade turut menjelaskan latar belakang pendidikan Gibran. Ia menilai persoalan mengenai ijazah perlu dilihat berdasarkan riwayat pendidikan Gibran yang sebagian ditempuh di luar negeri.
Menurut Ade, Gibran menjalani pendidikan menengah di Singapura sebelum melanjutkan pendidikan di Australia.
“Tentu saja besar, tapi yang penting kita semua harus tahu Gibran memang tidak pernah lulus SMA di Indonesia,” kata Ade.
Ia menjelaskan Gibran menempuh pendidikan menengah di Orchid Park Secondary School, Singapura, pada 2002-2004. Setelah itu, Gibran disebut melanjutkan pendidikan di UTS InSearch, Sydney, Australia, pada 2004-2007.
“Dia tidak punya ijazah SMA karena dia mengikuti proses pendidikan sekolah menengah di luar negeri yang setara dengan SMA di Indonesia,” ujarnya.
Gibran kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Management Development Institute of Singapore yang bekerja sama dengan University of Bradford pada 2007-2010.
Source link
