News

81 Tahun Merdeka: Warisan Apa yang Kita Siapkan untuk Generasi Mendatang?



Oleh: Dr. Amirullah, S.Pd., M.Pd.Dosen Pendidikan Sejarah dan IPS FIS-H UNM

PORTALUTAMA.NET – Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, perayaan kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera, dan berbagai seremoni. Momentum ini perlu menjadi ruang refleksi: apa yang sesungguhnya kita warisi dari perjalanan sejarah Indonesia, bagaimana kita memperlakukannya hari ini, dan warisan seperti apa yang akan kita tinggalkan kepada generasi mendatang?

Pertanyaan tersebut penting karena sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh wilayah, penduduk, pemerintahan, dan institusi politik. Bangsa juga dibentuk oleh ingatan kolektif. Sejarah menyediakan ingatan tersebut, sementara warisan budaya menjadi salah satu medium yang membuat ingatan itu tetap hidup.

Namun, setelah 81 tahun merdeka, kita menghadapi paradoks. Indonesia memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama terdapat gejala semakin jauhnya sebagian generasi muda dari sejarah dan kebudayaannya sendiri. Kita mungkin tidak sedang kehilangan warisan, tetapi sedang kehilangan kemampuan untuk memaknai warisan.

Memaknai Warisan Bukan Sekadar Peninggalan

Warisan Indonesia tidak seharusnya dipahami hanya sebagai benda-benda masa lalu. Candi, benteng, masjid tua, makam, rumah adat, museum, manuskrip, dan artefak memang merupakan bagian penting dari warisan. Tetapi warisan juga mencakup bahasa, tradisi, cerita rakyat, ritual, kuliner, kesenian, pengetahuan lokal, nilai sosial, serta ingatan komunitas. Karena itu, warisan memiliki dimensi material dan immaterial.

Persoalannya, pelestarian terkadang masih terlalu berorientasi pada aspek fisik. Kita sibuk memugar bangunan, memperbaiki situs, mengecat kawasan heritage, atau memperindah museum.

Semua itu penting. Tetapi apa artinya sebuah bangunan tetap berdiri jika generasi penerus tidak lagi memahami sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya? Inilah bahaya “warisan tanpa ingatan”. Bangunannya ada, tetapi narasinya hilang. Tradisinya dipertunjukkan, tetapi maknanya semakin dilupakan. Artefaknya tersimpan, tetapi tidak lagi menjadi sumber pembelajaran.

Menjaga Berarti Melawan Amnesia Sejarah

Menjaga warisan pada hakikatnya adalah menjaga ingatan sejarah bangsa. Tanpa kesadaran sejarah, masyarakat akan semakin mudah menerima berbagai narasi masa lalu tanpa kemampuan untuk menguji sumber dan kebenarannya. Di era media sosial dan kecerdasan artifisial, persoalan ini menjadi semakin serius. Informasi sejarah dapat diproduksi dan disebarkan dengan sangat cepat, sementara informasi yang populer belum tentu informasi yang benar.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *