BGN Wajibkan Label Batas Konsumsi Ompreng MBG, Ferry Koto: Kok Tiba-tiba Meloncat ke Label?

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang mulai mewajibkan pencantuman label batas waktu konsumsi pada ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perbincangan di Media Sosial X.
Pegiat media sosial, Ferry Koto, turut mempertanyakan kebijakan tersebut.
Dijelaskan Ferry, persoalan utama yang perlu dibenahi bukan semata soal informasi batas konsumsi, melainkan penyebab makanan MBG bisa tidak layak dikonsumsi hingga memicu kasus keracunan.
Ia menekankan, penerapan label tanpa terlebih dahulu mengurai sumber persoalan berpotensi membuat kebijakan hanya menjadi solusi di permukaan.
Makanan Tidak Layak Konsumsi
Ferry melihat bahwa langkah BGN mewajibkan label batas waktu konsumsi pada ompreng MBG tidak serta-merta menjawab persoalan keamanan makanan.
Kata dia, apabila masalah yang terjadi adalah makanan tidak layak konsumsi hingga menyebabkan siswa keracunan, maka akar persoalan seharusnya dicari terlebih dahulu.
“Masalahnya makanan tak layak konsumsi sehingga siswa keracunan, solusinya label batas konsumsi dibuat SPPG sendiri,” ujar Ferry dikutip fajar.co.id, Minggu (9/8/2026).
Ferry kemudian memberikan perumpamaan untuk menggambarkan kritiknya terhadap kebijakan tersebut.
“Ini mirip, penglihatan yg sudah agak lamur, sehingga tulisan terlihat kecil, solusinya cetak buku baru. Padahal cukup beli kacamata,” tukasnya.
Lanjut Ferry, persoalan tersebut menunjukkan pentingnya kajian sebelum sebuah kebijakan diterapkan secara luas.
“Ini lah kalau kebijakan dibuat tanpa kajian. Tanpa mengkaji bagaimana input, proses, dan output,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa kebijakan yang dijalankan tanpa evaluasi menyeluruh berisiko melahirkan pola coba-coba ketika muncul persoalan di lapangan.
“Asal dijalankan, jika error, coba lagi, error lagi, tambal lagi. Akhirnya penerima manfaat jadi kelinci percobaan,” imbuhnya.
Penyebab Keracunan Bisa Beragam
Ferry mengatakan penyebab makanan tidak layak konsumsi maupun kasus keracunan tidak bisa serta-merta disimpulkan hanya dari satu faktor.
“Penyebab makanan tidak layak konsumsi dan atau yg menimbulkan keracunan kan bisa dilihat dari banyak sebab,” sebutnya.
Ia menilai setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, sumber masalah di satu lokasi belum tentu sama dengan lokasi lainnya.
“Penyebab satu dan lain lokasi sangat mungkin berbeda, tergantung variable di masing-masing SPPG yang bisa jadi berbeda kondisinya,” jelasnya.
Ferry kemudian memerinci sejumlah faktor yang menurutnya perlu diperhatikan dalam memastikan keamanan makanan MBG.
Source link
