Imam Shamsi Ali: Piala Dunia 2026 Tercoreng Diskriminasi dan Standar Ganda FIFA

PORTALUTAMA.NET, NEW YORK – Perhelatan Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memasuki babak krusial. Delapan tim terbaik tengah bersaing memperebutkan tiket semifinal.
Namun di balik kemeriahan turnamen, sorotan justru mengarah pada persoalan sosial dan politik yang menyertainya.
Penilaian itu disampaikan Imam Besar Masjid Al-Hikmah New York dan diaspora Indonesia di Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali. Menurutnya, Piala Dunia tahun ini sarat muatan politik yang memengaruhi jalannya pertandingan.
Imam Shamsi Ali menyoroti sikap FIFA yang dinilainya tidak independen. Ia mencontohkan keputusan FIFA memboikot Rusia karena konflik di Ukraina.
“Namun di sisi lain, FIFA tetap mengizinkan Israel yang sejak 1948 dituduh melanggar hukum internasional dan melakukan genosida di Gaza untuk berpartisipasi,” ujar Imam Shamsi Ali melalui keterangan tertulisnya kepada Fajar.co.id, Sabtu malam (11/7/2026).
“Apapun pembenarannya, dunia tahu FIFA seolah menutup mata. Tidak heran jika FIFA kerap dijuluki organisasi berstandar ganda,” lanjutnya.
Tim Afrika dan Asia Didiskriminasi
Lebih jauh, Imam Shamsi Ali menyoroti perlakuan diskriminatif terhadap tim dan perangkat pertandingan dari Afrika dan Asia.
Ia mencontohkan Timnas Iran yang meski lolos ke Piala Dunia, tidak diizinkan menetap di AS selama turnamen. Akibatnya, skuad Iran harus bermarkas di Meksiko dan bolak-balik setiap kali bertanding di wilayah AS.
“Ini tentu menguras waktu, tenaga, dan mengganggu persiapan tim,” katanya.
Perlakuan serupa juga menimpa wasit terbaik Afrika, Omar Abdulkadir Artan. Ia disebut dideportasi setibanya di AS karena berpaspor Somalia dan dituduh memiliki kaitan dengan organisasi teroris tanpa bukti jelas.
“Beberapa tim dari Afrika dan Asia diperlakukan tidak etis di bandara. Pemeriksaan berlebihan dan merendahkan martabat membuat mereka seolah dianggap kriminal,” tegasnya.
Dugaan Keberpihakan di Lapangan
Imam Shamsi Ali yang mengaku penggemar sepak bola juga menyoroti kepemimpinan wasit dalam beberapa laga. Ia menyinggung pertandingan Mesir vs Argentina di mana gol ketiga Mesir dianulir, sementara Argentina menang 3-2 di menit akhir.
“Banyak kesalahan Mesir dihukum, sementara pelanggaran Argentina diabaikan. Ketika pelatih Mesir protes, asistennya diganjar kartu merah,” ungkapnya.
Ia menilai perayaan petinggi FIFA saat Argentina menang memperkuat dugaan keberpihakan.
“Tersingkirnya tiga tim kuat Afrika: Maroko, Senegal, dan Mesir, ditambah deportasi wasit dan diskriminasi terhadap Timnas Iran, semua mengarah pada dugaan rasisme dan kepentingan politik,” ujarnya.
Source link
