News

Hendri Satrio Nilai Pidato Prabowo Bukan Sekadar Teguran, Melainkan Perintah Moral agar TNI, Polri, dan Jaksa Utamakan Rakyat



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Pidato Presiden Prabowo Subianto yang meminta birokrat, TNI, Polri, dan Kejaksaan melakukan introspeksi mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Pengamat politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio (Hensa), menilai pesan Presiden bukan sekadar teguran kepada aparatur negara, melainkan sebuah instruksi moral agar seluruh aparat kembali menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama.

Menurut Hensa, pernyataan Presiden memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar kritik terhadap kinerja birokrasi. Ia melihat Prabowo sedang mengingatkan bahwa seluruh kewenangan aparat negara bersumber dari amanat rakyat sehingga harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Kalau saya membaca pidato pak Prabowo hari ini, ini bukan sekadar teguran biasa, ini masuknya perintah. Dia cuma mau mengingatkan agar aparat berhenti merasa menjadi pemilik negara dan ingat bahwa mereka hanya dititipi amanah oleh rakyat,” ujar Hensa kepada wartawan.

Dalam pandangan Hensa, kalimat Presiden yang menyebut bahwa “sepatu, bintang, topi” berasal dari rakyat bukan sekadar ungkapan retoris. Pesan tersebut menjadi simbol bahwa jabatan dan pangkat bukan hak istimewa yang melekat selamanya, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Kalau masih ada aparat yang merasa pangkat dan seragam membuat dirinya lebih tinggi dari rakyat, berarti dia gagal memahami pesan Presiden di Lombok itu. Pangkat itu diberikan rakyat, bukan turun dari langit,” katanya.

Hensa juga menilai pidato tersebut mempertegas makna loyalitas seorang aparatur negara. Menurutnya, kesetiaan aparat tidak boleh berhenti pada hubungan struktural dengan atasan ataupun institusi, tetapi harus berorientasi kepada kepentingan masyarakat sebagai pemegang kedaulatan.

“Kalimat Presiden bahwa rakyat tidak ingin korupsi sebenarnya sederhana, yang rumit justru kalau masih ada aparat yang pura-pura tidak mendengar. Kalau pesan sejelas ini masih dianggap angin lalu, berarti persoalannya bukan lagi pada Presiden, melainkan pada telinga para aparatnya,” ucap Hensa.

Ia menambahkan, harapan masyarakat terhadap aparat negara sesungguhnya tidak berlebihan. Publik hanya menginginkan kehadiran negara melalui pelayanan yang jujur, adil, profesional, serta bebas dari penyalahgunaan kewenangan.

“Rakyat kan selama ini tidak meminta aparat menjadi malaikat, cukup adil dan jangan menjadi beban. Jangan sampai seragam yang seharusnya melindungi justru membuat rakyat merasa takut, dan saya kira itu inti yang ingin ditegaskan Presiden dalam pidatonya,” tuturnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *