Rupiah Masih Mepet Rp18 Ribu, Strategi BI Naikkan Suku Bunga hingga Tiga Kali dalam Sebulan Gagal?

PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih mepet di angka psikologis Rp18.000, per Kamis, 25 Juni 2026 Rp17.943 per USD. Padahal Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan suku bunga tiga kali dalam kurang sebulan.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat tipis 9 point sebelumnya sempat menguat 30 point,” kata Pengamat Mata Uang, Ibrahim Assuaibi kepada fajar.co.id melalui keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
Besok, Ibrahim mengatakan rupiah berpotensi kembali melemah. Bahkan sampai Rp17.990.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp17.940 – Rp17.990,” ujar Ibrahim.
Upaya BI Gagal?
BI diketahui telah menaikkan suku bunga pada Mei 2026 sebesar 50 basis poin, kemudian 25 poin awal Juni 2026, dan 25 basis poin baru-baru ini, 18 Juni 2026. Totalnya 100 basis poin.
Ibrahim sebelumnya mengkritik kebijakan tersebut. Menurutnya, mestinya BI menurunkan suku bunga.
“Harusnya menurunkan suku bunga, bukan menaikkan. Karena Selat Hormuz sudah dibuka, kemudian harga minyak sudah stabil,” kata Ibrahim kepada fajar.co.id, Kamis (18/6/2026).
Karenanya, dia mengaku tak setuju dengan kenaikan suku bunga tersebut. Mengingat kenaikan 100 basis poin tidak sedikit.
“Harus diingat bahwa kalau seandainya Bank Indonesia menaikkan suku bunga sekarang sudah 100 basis poin, ya 1 persen berarti suku bunga obligasi tenor 10 tahun kemungkinan besar bukan lagi 7,4, bisa saja akan naik menjadi 8 persen,” paparnya.
Jika itu terjadi, kata Ibrahim, Indonesia akan mencetak rekor.
“Obligasi Indonesia ini tertinggi di dunia,” terangnya.
Cicilan Naik, Daya Beli Turun
Ibrahim menjelaskan, dampak langsung kenaikan suku bunga, tidak hanya menaikkan deposito. Tapi juga bunga kredit.
“Pasti akan naik. Karena kan di situ kan pada saat suku bunga dinaikkan, suku bunga facility juga naik, suku bunga kredit juga naik, ya kan, deposito pun juga naik,” jelas Ibrahim.
Menurut Ibrahim, mengingat suku bunga saat ini 5,75 persen , berarti kenaikan deposito bisa bisa 6 sampai 6,5 persen. Sehingga kemungkinan bunga di bank pemerintah dan swasta mencapai 6 persen.
“Mungkin bank pemerintah di 6 persen, bank swasta mungkin di 6,5 atau 6, 6,25 atau 6,5 persen. Nah, sehingga apa? Suku bunga kredit kemungkinan besar di atas 10 persen,” papar Ibrahim.
Biasanya, kata dia, suku bunga kredit dua kali lipat. Sehingga jika mematok 6,5 persen, bisa mencapai 13 hingga 15 persen.
“Sehingga ini mencekik ya bagi para pengusaha, bagi masyarakat yang mereka sedang mencicil eh rumah, apartemen,” imbuhnya.
Source link
