Pengamat: Klaim Ekonomi Tumbuh 5,61% Cuma Senangkan Prabowo, Rakyat Malah Mual

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pengamat politik dan ekonomi, Heru Subagia, mengkritik keras klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2026 sebesar 5,61%.
Ia menuding ada “otak-atik statistik” yang hanya menyenangkan pemerintah, tapi bertolak belakang dengan kondisi riil masyarakat.
Heru mengaku sengaja menyerang kredibilitas penyelenggara negara, khususnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
“Saya mungkin sangat menyerang kredibilitas para penyelenggara negara, secara khusus berisi kritik tajam kepada Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan secara umum memberikan peringatan keras ke Pemerintah Prabowo-Gibran,” kata Heru kepada fajar.co.id, Kamis, 7 Mei 2026.
Ia berharap data ekonomi yang dirilis bukan bagian dari skenario penyesatan informasi publik.
“Semoga bukan master plan penyesatan informasi, dan diminta agar waspada dan bijaksana mendengar, membaca, dan menerima data serta informasi penting dari bawahannya,” sebutnya.
Ragukan Data 5,61%: “PHK, Daya Beli Lemah, Usaha Tutup”
Heru mengajak masyarakat, terutama pelaku usaha dari level kecil hingga besar, mempertanyakan validitas data tersebut.
Menurutnya, angka 5,61% sangat bertolak belakang dengan kondisi ekonomi yang dirasakan saat ini.
“Ia mengajak juga masyarakat terutama pelaku ekonomi bawah hingga kakap secara kolektif menyatakan keberatan terhadap rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan pertama tahun 2026 yang mencapai 5,61 persen,” tukasnya.
Ia menilai ekonomi justru sedang sulit. Daya beli melemah, PHK terjadi, banyak pelaku usaha menunda ekspansi bahkan menutup bisnis.
Heru juga mempertanyakan klaim kontribusi konsumsi rumah tangga 2,94% sebagai pendorong pertumbuhan. Baginya, masyarakat saat ini tidak punya kemampuan belanja yang cukup.
“Saya mempertanyakan validitas kontribusi konsumsi rumah tangga (2,94 persen) yang diklaim sebagai pendorong ekonomi, karena merasa masyarakat saat ini tidak memiliki kemampuan belanja yang cukup,” katanya.
Ia menegaskan ada kontradiksi antara data resmi pemerintah dengan realitas ekonomi di lapangan.
Sorot MBG dan Danantara: “Alat Manipulasi Statistik”
Heru turut menyoroti program pemerintah seperti diskon tiket transportasi, proyek Danantara, hingga Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menduga kebijakan itu dipakai sebagai instrumen mendongkrak angka pertumbuhan secara statistik.
“Beberapa program yang diklaim pemerintah sebagai penopang ekonomi, seperti diskon tiket transportasi, program Danantara, hingga proyek Makan Bergizi (MBG), keseluruhan kebijakan tersebut dinilai bersifat semu atau sekadar alat untuk memanipulasi data statistik demi kepentingan propaganda politik,” bebernya.
Program MBG disorot karena dinilai tidak transparan dan hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Source link
