Pengusiran Pejabat di UGM Bikin Geger, Mahfud MD Ungkap Akar Masalah Demokrasi

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pakar Hukum Tata Negara Mahfud MD menilai insiden pengusiran sejumlah pejabat negara dalam sebuah forum diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026 menjadi cerminan bahwa demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Dalam pernyataannya yang diunggah melalui akun TikTok @mohmahfudmdofficial, Kamis (18/6/2026), Mahfud mengatakan peristiwa tersebut menunjukkan adanya benturan pandangan antara pemerintah dan mahasiswa yang berujung pada konflik di ruang publik.
“Apa yang terjadi di UGM kemarin itu gambaran dari itu. Pemerintah datang, lalu dituding Anda tidak demokratis,” ujar Mahfud.
Menurutnya, terdapat dua sudut pandang yang saling berhadapan dalam peristiwa tersebut. Dari sisi pemerintah, para pejabat yang hadir merasa memiliki legitimasi karena memperoleh mandat melalui mekanisme demokrasi dan konstitusi.
“Lalu mahasiswa dihalangi, Anda anarkis. Lalu dijawab, kami ini punya wewenang. Pemerintah menang pemilu, Undang-Undang Dasar,” tuturnya.
Sementara itu, dari perspektif mahasiswa, pemerintah dianggap telah menyimpang dari cita-cita demokrasi dan reformasi.
“Mahasiswa bilang, tapi Anda nyeleweng,” kata Mahfud.
Perbedaan pandangan tersebut kemudian memicu ketegangan hingga para pejabat yang hadir diminta meninggalkan lokasi acara.
Mahfud menilai insiden itu menjadi contoh kecil dari dampak demokrasi yang tidak dijalankan dan dikawal dengan baik oleh hukum.
“Terjadilah benturan itu. Itu satu contoh kecil yang muncul dari UGM. Betapa kalau demokrasi itu tidak dijalankan, tidak dikawal dengan hukum dengan baik, maka yang akan terjadi seperti di UGM itu,” jelasnya.
“Pejabat terpaksa dievakuasi, diusir,” sambung mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut.
Kronologi Kejadian
Peristiwa itu terjadi dalam diskusi bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar” yang diselenggarakan oleh Total Politik di lingkungan UGM.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah pejabat negara, di antaranya Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Situasi mulai memanas ketika para narasumber naik ke atas panggung. Budiman bahkan sempat mempersilakan mahasiswa untuk menyampaikan kritik secara terbuka.
Namun tak lama kemudian, suara sirene terdengar dari arah luar lokasi diskusi. Sekelompok mahasiswa datang membawa pengeras suara dan sejumlah spanduk.
Di antara spanduk yang dibentangkan bertuliskan, “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim”.
Source link
