News

Fernando Emas Ingatkan Prabowo soal Ancaman “Reformasi 1998 Jilid II” Akibat Tekanan Ekonomi Rakyat



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Pengamat politik Fernando Emas menyampaikan peringatan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi ekonomi dan sosial yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius. Ia menilai pemerintah harus bergerak cepat agar tidak terjadi akumulasi kekecewaan publik yang berpotensi memicu gelombang protes besar.

Fernando menyebut terdapat kemungkinan munculnya skenario yang ia gambarkan sebagai “Reformasi 1998 Jilid II” apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah strategis dalam memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat.

Reformasi 1998 sendiri menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan politik Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi setelah tekanan ekonomi, penurunan daya beli masyarakat, serta keresahan terhadap persoalan ketidakadilan dan korupsi mendorong gerakan besar yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat.

“Saya tidak menakut-nakuti pemerintahan Prabowo, melainkan untuk memberi peringatan berbasis sejarah yang nyata, yakni kondisi yang pernah memicu ledakan sosial seperti 1998 berpotensi berulang jika pemerintah tidak segera bertindak,” ujar Fernando Emas kepada wartawan, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Fernando, potensi terjadinya reformasi jilid kedua bukan sesuatu yang pasti, melainkan dapat muncul apabila pemerintah gagal merespons tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

“Artinya, masih ada jendela peluang bagi Presiden Prabowo untuk mengambil langkah-langkah konkret dan terukur guna mencegah akumulasi kemarahan publik mencapai titik kritis yang tidak terkendali,” tandas dia.

Ia menilai pemerintahan saat ini tidak bisa menjalankan pola kerja yang lambat dan hanya bereaksi terhadap persoalan yang muncul. Menurutnya, kondisi ekonomi yang kompleks membutuhkan keputusan cepat, termasuk mengevaluasi kinerja jajaran kabinet.

Fernando bahkan menyebut pergantian menteri yang tidak mampu menghadirkan solusi bisa menjadi langkah yang diperlukan untuk menjaga kepercayaan publik.

“Saya memberikan peringatan karena di balik peringatan tersebut terdapat realitas pahit yang dirasakan langsung oleh jutaan rakyat Indonesia setiap harinya. Kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada rakyat kecil bukan sekadar angka statistik, ia berwujud dalam antrian panjang di SPBU, harga bahan pokok yang terus merangkak naik, tagihan listrik yang membengkak, dan lapangan kerja yang semakin sulit dijangkau,” jelas Fernando.

Ia mengatakan tekanan ekonomi saat ini terlihat dari kenaikan sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, hingga protein hewani yang berdampak terhadap daya beli masyarakat. Di sisi lain, kondisi pasar kerja juga menjadi perhatian karena adanya gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *