News

Diskresi Bahlil Bukan Segalanya, Pengamat Beber Kunci Kemenangan di Musda Golkar Sulsel



PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Kabar bahwa Musda Golkar Sulsel akan digelar pada Juli 2026 mendapat tanggapan dari Pengamat Politik yang juga Direktur Lembaga Riset Profetik Institut, Asratillah. Menurutnya kabar terkini terkait Musda Golkar yang menyebut ada sosok dapat diskresi dari Bahlil mengonfirmasi bahwa pusat kendali Musda Golkar Sulsel memang semakin berada di tangan DPP.

“Jika benar ada satu figur yang mulai menguat untuk mendapatkan diskresi dari Ketua Umum Bahlil Lahadalia, maka itu menunjukkan bahwa DPP sedang berupaya memastikan kompetisi Musda tetap berlangsung dalam format yang mereka anggap ideal,” katanya, saat dihubungi fajar.co.id, Jumat malam (12/6/2026).

Dalam partai modern, lanjut Asratillah, diskresi biasanya digunakan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan administratif, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan politik internal agar tidak terjadi dominasi tunggal yang berpotensi memunculkan resistensi pasca Musda.

“Namun saya menilai bahwa kekuatan sebuah kandidat tidak bisa diukur hanya dari peluang mendapatkan diskresi. Dalam konteks Golkar Sulsel, faktor dukungan DPD II tetap menjadi variabel yang sangat penting. Sebab para pemilik suara di daerah adalah representasi dari denyut organisasi yang selama ini bekerja menjaga eksistensi partai,” katanya.

Karena itu, sambung Asratillah, siapa pun yang nantinya memperoleh ruang bertarung melalui diskresi tetap membutuhkan legitimasi dan penerimaan yang kuat dari struktur bawah agar proses konsolidasi setelah Musda dapat berjalan efektif.

Ada tantangan yang cukup besar bagi DPP untuk menemukan titik temu antara aspirasi daerah dan kepentingan menjaga stabilitas partai. Jika keputusan yang diambil terlalu jauh dari preferensi mayoritas struktur daerah, maka akan muncul pekerjaan rumah yang lebih besar setelah Musda selesai.

Sebaliknya, jika aspirasi daerah dapat diakomodasi secara proporsional, maka peluang Golkar Sulsel untuk kembali solid dan kompetitif menghadapi Pemilu 2029 akan semakin terbuka.

“Saya juga berpandangan bahwa dinamika ini belum sepenuhnya selesai. Politik Golkar selalu memiliki ruang negosiasi yang sangat dinamis hingga menjelang pengambilan keputusan akhir. Karena itu, meskipun ada figur yang disebut menguat mendapatkan diskresi, peta dukungan di lapangan tetap tidak boleh diabaikan,” urainya.

Menurutnya, kandidat yang paling berpeluang memimpin Golkar Sulsel adalah figur yang mampu menghubungkan kehendak DPP dengan aspirasi mayoritas kader di tingkat kabupaten dan kota. “Itulah modal paling penting untuk membangun kemenangan politik yang berkelanjutan,” tutup Asratillah.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *