News

Pertamax Naik Jadi Rp16.200 Per Liter, BI Naikkan Suku Bunga, IHSG dan Rupiah Rontok



PORTALUTAMA.NET — Masyarakat Indonesia hampir setiap hari dikejutkan dengan kabar tak sedap pelemahan kondisi perekonomian. Terbaru, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liternya untuk wilayah Jakarta pada Rabu (10/6/2026)

Sementara itu, di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, harga Pertamax dibandero di angka Rp16.650 hingga Rp17.000 kecuali di Free Trade Zone Sabang dan Batam yang dibanderol di angka Rp15.250 hingga Rp15.500.

Merujuk pada website MyPertamina, harga pertamax green juga mencatatkan kenaikan menjadi sebesar Rp17.000 per liternya, naik Rp4.100 dari sebelumnya sebesar Rp12.900 per liter.

Sehari sebelumnya, kabar tak kalah mengejutkan juga datang dari Bank Indonesia (BI) yang telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026).

Kenaikan ini diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur untuk evaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang ditetapkan dalam RDG Bulanan.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan kenaikan ini sebagai langkah lanjutan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah

“Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia,” ujarnya.

Dampak Kenaikan Suku Bunga BI

tersimpan implikasi yang cukup signifikan bagi kantong masyarakat, terutama mereka yang berada di segmen kelas menengah. Kenaikan BI Rate bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan pemicu langsung terhadap biaya pinjaman yang harus ditanggung konsumen.

Menurut para ekonom, respons perbankan dan lembaga keuangan terhadap perubahan BI Rate cenderung cepat. Jika suku bunga acuan naik, bunga kredit untuk berbagai jenis pinjaman, mulai dari kredit konsumsi hingga kredit investasi, diperkirakan akan ikut terkerek naik dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Fenomena ini berbeda ketika suku bunga acuan diturunkan; dalam situasi tersebut, perbankan cenderung lebih lambat dalam menyesuaikan suku bunga kreditnya.

Implikasi kenaikan suku bunga ini merambah luas, menyentuh hampir seluruh lini pembiayaan masyarakat. Mulai dari Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang menjadi impian banyak keluarga, hingga pinjaman online (pinjol) yang semakin populer.

Para pelaku usaha di sektor pinjaman, baik bank maupun non-bank, diprediksi akan segera menyesuaikan besaran bunga pinjaman mereka.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *