Pakar Komunikasi Unair: Prabowo Benci Pakar, Gaya Komunikasinya Mirip Trump hingga Mao

PORTALUTAMA.NET,JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto dianggap membenci pakar. Setelah pidatonya menyebut pakar yang saking pintarnya jadi goblok.
“Prabowo benci pakar. Nampaknya tidak suka bahkan benci dengan pakar, terutama pada mereka yang mengritiknya,” kata Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Prof Henri Subiakto dikutip dari unggahannya di X, Sabtu (19/9/2026).
Henri menyebutnya sebagai sikap anti-intellectualism. Merujuk pada orang atau pemimpin yang bersikap skeptis, tidak percaya, bahkan bermusuhan terhadap intelektual, akademisi, kaum terdidik, serta kegiatan intelektual yang disebut pakar.
“Pakar atau kaum intelektual dianggap sebagai kelompok yang berbeda dari “rakyat biasa,” terlalu teoritis, tidak praktis, atau bahkan berbahaya,” ujarnya.
Di dalam politik modern atau demokratis, istilah tersebut sering dipakai untuk menggambarkan retorika populis dari pemimpin. Terutama yang aslinya berkarakter otoriter.
“Yang suka menyerang “elit intelektual,” “profesor,” atau “pakar”. Baginya kaum intelektual itu dianggap “mengganggu” karena cenderung mempertanyakan kebijakan kekuasaan dan menyebarkan pemikiran kritis,” ucapnya.
Tidak mengherankan menurutnya jika selama ini Prabowo terkesan tidak mendengarkan kritik dan masukan. Hanya menganggap Pemerintahlah yang paling benar.
“Hanya institusinya yang mewakili kebaikan dan kepentingan negara. Sedang kaum intelektual kritis dicap negatif sebagai “bodoh”, melengkapi perbendaharaan kata sebelumnya seperti “antek asing”, dan “londo ireng”,” ujarnya.
Menurutnya, dari situ tidak heran, jika orang orang yang ada di sekitar kekuasaan, dipilih yang tidak bicara kritis. Yang penting nurut dan loyal sebagaimana dalam tradisi prajurit atau tentara.
“Mengabaikan nilai nilai demokratis yang menganggap kritik itu mencerdaskan, mendewasakan, dan membuat pemerintah lebih hati hati dan bijak,” imbuhnya.
Henry membandingkanya dengan sejumlah tokoh pemimpin dunia yang anti demokrasi. Sama-sama berkarakter misologist, yang membenci argumen kaum terdidik.
“Mirip yang dulu juga dilakukan tokoh tokoh anti demokrasi seperti Mao Zedong (Cina), Polpot (Kamboja), yang garis politiknya anti terhadap orang berpendidikan tinggi,” ujarnya.
Di sisi lain, dia melihat hal tersebut ironi. Mengingat Prabowo merupakan anak kandung intelektual Prof Soemitro Djoyohadikoesoemo.
“Aneh jika Prabowo tidak suka dengan tradisi intelektual yang kritis seperti bapaknya dulu. Atau inilah gaya retorika Prabowo yang mengikuti gaya komunikasi Donald Trump, pemimpin negara demokrasi tapi berkakter anti demokrasi,” jelasnya.
Source link
