News

Sel Dendritik: Dirigen Sunyi Imunitas



Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.

Alumnus Program Doktor IPCTRM Taipei Medical University, Taiwan; dokter riset, dosen, peneliti, penulis, kolumnis, reviewer jurnal ilmiah internasional, trainer berlisensi BNSP, dan komunikator sains.

PORTALUTAMA.NET – Percakapan publik tentang kekebalan tubuh lebih sering terpaku pada antibodi, vaksin, atau badai sitokin. Sel dendritik atau DC (dendritic cell, sel imun pengatur yang menangkap, mengolah, dan menyajikan antigen) jarang disebut, seolah hanya figuran kecil di panggung imunologi. Padahal, sel inilah yang kerap membuka bab pertama respons imun: mengenali bahaya, membaca antigen (molekul asing atau bagian patogen yang dikenali sistem imun), lalu menerjemahkan sinyal biologis menjadi keputusan pertahanan tubuh.

Sel dendritik bekerja di wilayah yang paling rawan: epitel saluran napas (lapisan pelindung permukaan saluran napas), mukosa (lapisan lembap pelindung organ), jaringan limfoid (jaringan tempat sel imun berkumpul), dan darah perifer (darah yang beredar di luar organ pembentuk darah). Mereka membaca tanda ancaman jauh sebelum gejala klinis muncul sebagai demam, batuk, sesak napas, atau kelelahan. Saat SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2, virus penyebab COVID-19) memasuki tubuh, sel dendritik berada di garis awal yang ikut menentukan apakah respons imun bergerak tepat waktu, terlambat, atau justru berlebihan.

Tugas mereka jauh melampaui fungsi memperlihatkan antigen kepada sel imun lain. Istilah antigen-presenting cells (sel penyaji antigen) memang benar, tetapi belum cukup untuk menggambarkan kecerdasan biologis sel dendritik. Mereka bukan sekadar kurir. Mereka adalah editor informasi imunologis: menilai sinyal mana yang perlu diperkuat, mana yang harus ditoleransi, dan kapan sistem imun perlu bergerak dengan kekuatan penuh.

Keputusan mikro di tingkat sel dapat berubah menjadi perbedaan makro di ruang perawatan. Seseorang mungkin cukup menjalani isolasi mandiri, sementara orang lain membutuhkan oksigen, ventilator (alat bantu napas mekanik), atau perawatan intensif. Perbedaan itu tidak pernah ditentukan oleh satu faktor tunggal. Namun kualitas kerja sel dendritik membantu menjelaskan mengapa imunitas pada satu waktu menjadi pelindung, sementara pada situasi lain berubah menjadi sumber kerusakan.

Koronavirus memperlihatkan paradoks yang menarik. SARS-CoV (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus, virus penyebab SARS 2002-2003) dan SARS-CoV-2 dapat masuk ke sel dendritik, tetapi tidak selalu menyelesaikan replikasi produktif (proses memperbanyak diri hingga menghasilkan virus baru yang menular). Sejumlah kajian menunjukkan bahwa monocyte-derived dendritic cells (sel dendritik yang berasal dari monosit) dapat membawa RNA virus (materi genetik virus) dan memperlihatkan tanda replikasi awal, tetapi tidak selalu melepaskan partikel virus baru yang infeksius.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *