Tradisi Ma’bunga’ Lalang yang Perlahan Ditinggalkan Zaman

Oleh: Desy Selviana
(Pustakawan)
Mungkin sebagian masyarakat Luwu masih mengingat, atau justru perlahan mulai lupa, tentang tradisi ma’bunga’ lalang. Tradisi yang dahulu lekat dengan kehidupan petani ini pernah menjadi bagian penting dalam aktivitas menanam padi di sawah masyarakat Luwu.
Dalam bahasa Tae’, bunga’ berarti ‘pertama’, sedangkan lalang berarti ‘jalan’. Ma’bunga’ lalang dapat dimaknai sebagai sosok yang membuka jalan dan menjadi pelopor dalam rangkaian aktivitas pertanian masyarakat.
Dahulu, sebelum masyarakat turun ke sawah, seorang bunga’ lalang terlebih dahulu menentukan waktu tanam dengan membaca tanda-tanda alam.
Sosok ini bukan orang sembarangan. Ia dipercaya memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus mulai dari membuka lahan, mappamula ta’pa, mappamula mantanang, hingga mappamula marri’ta atau panen.
Bagi masyarakat To Luwu, bunga’ lalang bukan sekadar pemimpin ritual, melainkan penjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Karena itu, hampir seluruh tahapan pertanian selalu disertai pau-pau atau tuturan adat yang diwariskan turun-temurun.
Tradisi ma’bunga’ lalang dimulai dengan menentukan waktu tanam. Biasanya bunga’ lalang mengumpulkan para petani untuk menyampaikan kapan waktu terbaik mengolah sawah, menanam padi, hingga menentukan masa panen.
Setelah itu, masyarakat memasuki tahapan mappipaccing kalo’ dan mappatama wai. Mappipaccing kalo’ berarti membersihkan saluran air secara gotong royong, sedangkan mappatama wai berarti mengalirkan air ke sawah-sawah petani secara serentak.
Dalam tahapan ini dikenal pula istilah mabbaja kampong, yakni memperbaiki hubungan antarmasyarakat ketika terjadi konflik. Ada juga mabbaja tondo, kegiatan membersihkan lingkungan dan saluran air bersama-sama. Sementara mattutu’ kalo’ dilakukan dengan menutup saluran air setelah sawah selesai diairi.
Semua proses itu menunjukkan bahwa ma’bunga’ lalang bukan sekadar ritual pertanian, tetapi juga ruang untuk menjaga gotong royong, silaturahmi, dan kerukunan masyarakat kampung.
Saat memasuki tahap mappamula ta’pa, bunga’ lalang membawa cangkul menuju sawah. Ia berdiri di satu titik sambil melihat tanah dan membisikkan pau-pau khusus sebelum mulai mencangkul tanah sebanyak tiga kali. Masyarakat percaya tidak seorang pun boleh lebih dahulu turun ke sawah sebelum bunga’ lalang melakukan ritual tersebut.
Begitu pula dalam tahapan mappamula mantanang. Sebelum benih padi ditebar, bunga’ lalang terlebih dahulu membisikkan pau-pau kepada benih yang akan ditanam. Setelah tiba di sawah, ia berdiri di sudut petak sawah sambil menggenggam benih padi lalu menebarkannya sebagai tanda dimulainya musim tanam.
Source link
