Prof Henri: Mengabaikan The Economist Bentuk Ketidakpekaan Pemerintah

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Guru Besar Universitas Airlangga, Henri Subiakto ikut menanggapi sorotan media internasional The Economist terhadap arah kebijakan Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Henri menilai kritik dan peringatan yang disampaikan media tersebut tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, The Economist merupakan salah satu institusi media paling berpengaruh dengan reputasi global yang kuat.
The Economist Dinilai Sangat Kredibel
Henri menjelaskan, The Economist memiliki sejarah panjang dalam dunia jurnalistik internasional. Media tersebut telah berdiri sejak abad ke-19 dan dikenal luas di kalangan elite dunia.
“Peringatan serius dari media genius yang bereputasi tinggi,” ujar Henri dikutip fajar.co.id, Senin (18/5/2026).
Ia kemudian mengulas sejarah berdirinya media tersebut. The Economist didirikan oleh James Wilson pada 1843 di London dan kini telah berusia 182 tahun.
Menurut Henri, selama hampir dua abad The Economist mampu menjaga reputasinya sebagai media independen yang berpengaruh secara global.
“Selama hampir dua abad, The Economist mempertahankan reputasi sebagai suara intelektual yang independen dan berpengaruh di kalangan elite bisnis, politisi, dan akademisi,” jelasnya.
Pernah Datang Langsung ke Kantor The Economist
Henri juga membagikan pengalamannya saat pernah mengunjungi kantor pusat The Economist di London ketika memperoleh beasiswa British Chevening pada tahun 2000.
Ia mengaku melihat langsung profesionalisme media tersebut dalam menyusun liputan dan analisis.
“Alhamdulillah tahun 2000 ketika saya dapat British Chevening, pernah diundang ke kantor The Economist di pusat kota London,” ungkapnya.
“Mereka memang sangat profesional dan berbasis data objektif dalam membuat liputan,” sambung Henri.
Meski mengakui ada sejumlah kritik terhadap gaya pemberitaan The Economist yang kadang dianggap terlalu percaya diri, Henri tetap menilai media tersebut memiliki kredibilitas tinggi.
“Banyak ilmuwan yang memuji kekuatannya dalam international reporting, meski ada juga kritik bahwa kadang terlalu percaya diri,” tuturnya.
“Secara keseluruhan, harus diakui The Economist tetap menjadi salah satu media paling kredibel di dunia,” tambah Henri.
Karena itu, ia mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan sorotan maupun peringatan yang disampaikan media internasional tersebut.
“Kalau Indonesia mengabaikan peringatan institusi media kredibel ini, jelas itu merupakan sikap ketidakpekaan dan ketidakcerdasan berpikir,” kuncinya.
The Economist Soroti Kebijakan Pemerintah Prabowo
Source link
