News

Edukasi 7.0 – FAJAR



Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.

Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, dokter riset, dosen, peneliti, penulis profesional, reviewer jurnal ilmiah internasional, trainer, dan komunikator sains. Ia aktif menulis isu pendidikan, kesehatan, biomedis, teknologi, kecerdasan buatan, kearifan lokal, serta pembangunan manusia Indonesia.

PORTALUTAMA.NET – Setiap 2 Mei, ingatan kolektif bangsa ini kembali pada akar pendidikan yang bukan sekadar transmisi pengetahuan, melainkan pembentukan manusia seutuhnya. Hari Pendidikan Nasional bukan ritual seremonial yang berulang, melainkan ruang perenungan tentang arah masa depan: bagaimana ilmu pengetahuan berkembang tanpa tercerabut dari identitas kultural, spiritual, dan moral bangsa. Di tengah derasnya arus digitalisasi, pertanyaan itu menjadi semakin mendesak.

Transformasi digital telah mengubah lanskap pendidikan secara fundamental. Ruang kelas meluas melampaui dinding sekolah, menjangkau layar-layar gawai yang tak mengenal batas geografis. Akses terhadap literatur ilmiah, kursus daring, simulasi berbasis kecerdasan buatan, hingga ruang belajar virtual kini tersedia dalam hitungan detik. Kecepatan ini menghadirkan peluang luar biasa bagi generasi muda Indonesia untuk melampaui keterbatasan struktural yang selama ini menghambat pemerataan pendidikan.

Namun, akselerasi tersebut juga membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Data BPS menunjukkan bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023; tetapi kepemilikan komputer rumah tangga pada 2024 baru 18,52 persen. Artinya, akses digital meningkat, tetapi belum selalu identik dengan kesiapan belajar digital yang merata dan bermutu. 

APJII juga mencatat pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221,56 juta orang dengan penetrasi 79,5 persen. Namun, kontribusi pengguna internet masih didominasi wilayah urban sebesar 69,5 persen, sedangkan rural 30,5 persen. Angka ini mengingatkan bahwa digitalisasi pendidikan harus selalu dibaca bersama masalah kesenjangan wilayah, perangkat, konektivitas, dan literasi. 

Di sisi lain, capaian belajar juga belum dapat dianggap aman. Dalam PISA 2022, siswa Indonesia masih berada di bawah rerata OECD untuk matematika, membaca, dan sains. Hanya 18 persen siswa Indonesia mencapai setidaknya Level 2 dalam matematika, dan sekitar 25 persen mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca. Data ini menunjukkan bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya memperluas akses teknologi, tetapi juga harus memperkuat literasi dasar, nalar kritis, karakter, dan makna belajar. 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *