Bursa Saham Terguncang! Antrean Jual BBCA Menyenggol 2,4 Juta Lot, Investor Ritel Pasrah

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pasar keuangan domestik diguncang aksi lepas saham berskala besar yang menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah secara drastis.
Penurunan tajam yang diwarnai oleh tekanan jual luar biasa pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) tersebut memicu keprihatinan mendalam di kalangan pelaku pasar, investor ritel, hingga para analis independen.
Salah satu sorotan datang dari seorang pengusaha, konten kreator, sekaligus trader aktif, Gilang Margi Nugroho. Dalam analisis yang dibagikannya, dikutip Sabtu (17/10/2026), Gilang secara terbuka mengeluhkan sekaligus membedah kondisi kejatuhan ekstrem bursa saham Indonesia yang dinilainya terjadi secara tidak wajar dan di luar ekspektasi normal pergerakan pasar harian.
Tekanan Jual Ekstrem Hantam Saham Blue Chip Perbankan
Gilang menggambarkan momentum koreksi tajam ini sebagai salah satu “hari bersejarah” di lantai bursa. Pasalnya, saham-saham perbankan raksasa yang selama ini dikenal sebagai tulang punggung dan penopang utama kestabilan IHSG hancur dihantam gelombang tekanan jual luar biasa.
Dalam pengamatannya terhadap dinamika papan perdagangan (order book), tercatat dua pilar utama perbankan nasional mengalami penumpukan penawaran jual yang luar biasa masif:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Antrean jual (offer) tertahan dan menumpuk hingga menyentuh angka fantastis, yakni sekitar 2,4 juta lot.
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Menghadapi kondisi serupa dengan antrean jual masif yang mendekati 1 juta lot.
Kondisi tersebut mencerminkan fenomena oversupply yang sangat ekstrem di pasar. Saham-saham blue chip yang lazimnya memiliki likuiditas sangat tinggi dan peminat yang melimpah, mendadak diguyur aksi jual hebat tanpa adanya daya beli yang mampu menampung (no bid support). Fenomena hampa pembeli ini membuat harga saham terkunci pada penurunan tajam dalam kurun waktu singkat.
Foreign Outflow Deras, Daya Beli Ritel Tak Mampu Menahan
Mengikuti insting sebagai pelaku pasar, Gilang mengaku sempat mencoba mengambil peluang dengan melakukan aksi beli secara bertahap saat harga merosot (buy on weakness / nyerok). Namun, melihat dinamika perdagangan yang kian tidak kondusif, ia akhirnya memilih langkah disiplin manajemen risiko dengan menjual kembali posisinya (cut loss/exit).
“Kekuatan beli (buying power) dari investor domestik maupun ritel saat ini jelas tidak mampu membendung derasnya aliran dana dan barang yang dilepas oleh investor asing (foreign investors),” ungkapnya.
Fenomena capital outflow atau arus keluar modal asing secara beruntun ini mempertegas bahwa gelombang tekanan datang dari institusi global yang tengah melakukan rebalancing portofolio atau memindahkan aset mereka ke pasar yang dinilai lebih aman (safe haven). Ketika dana asing keluar secara masif, likuiditas lokal tidak memiliki kapasitas dana yang cukup besar untuk menyerap seluruh penawaran jual tersebut.
Source link
