News

UNHAS, Mandela, Xanana, dan Diplomasi Perdamaian



Oleh: Hafid Abbas

Apabila Universitas Hasanuddin (UNHAS) menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada Perdana Menteri Timor-Leste, Kay Rala Xanana Gusmão, maka penghargaan tersebut akan memiliki makna yang jauh melampaui seremoni akademik. Penganugerahan itu merupakan pernyataan moral sekaligus diplomatik bahwa universitas tidak hanya menghargai pencapaian intelektual, tetapi juga kepemimpinan yang mampu mengubah konflik menjadi rekonsiliasi, perjuangan menjadi perdamaian, dan sejarah yang penuh luka menjadi masa depan yang lebih bersahabat.

Dalam perspektif tersebut, Xanana Gusmão menempati posisi yang menarik. Ia dapat ditempatkan dalam garis historis yang sama dengan Nelson Mandela, yang pada 2005 menerima gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin. Keduanya bukan sekadar pemimpin politik, melainkan simbol perjuangan bangsa yang mengalami penindasan, menjalani pengorbanan pribadi, dan pada akhirnya memilih jalan rekonsiliasi dibandingkan balas dendam.

Mandela menghabiskan puluhan tahun di penjara demi mengakhiri sistem apartheid di Afrika Selatan. Xanana Gusmão pun menjalani masa tahanan yang panjang dalam perjuangan kemerdekaan Timor-Leste. Namun, yang membuat keduanya dikenang dunia bukan semata keberanian melawan ketidakadilan, melainkan kemampuan membangun perdamaian setelah konflik berakhir. Pada titik itulah kepemimpinan mereka memperoleh dimensi universal yang melampaui batas negara.

Baik Mandela maupun Xanana menunjukkan bahwa kemenangan sejati bukanlah mengalahkan lawan, melainkan memulihkan martabat semua pihak melalui rekonsiliasi. Kepemimpinan seperti inilah yang menjadi inspirasi bagi dunia akademik, sebab universitas pada hakikatnya merupakan ruang yang mengembangkan nalar, dialog, serta penghormatan terhadap kemanusiaan.

Jika Mandela menjadi simbol perjuangan melawan apartheid, maka Xanana menjadi simbol transformasi Timor-Leste dari wilayah konflik menjadi negara yang membangun hubungan baik dengan negara-negara tetangganya, termasuk Indonesia. Perubahan hubungan Indonesia–Timor-Leste dalam dua dekade terakhir menjadi salah satu contoh penting bagaimana rekonsiliasi politik mampu melahirkan persahabatan yang lebih kokoh daripada permusuhan yang diwariskan sejarah.

Di sinilah relevansi penghargaan akademik menjadi semakin nyata. Doctor Honoris Causa bukan sekadar bentuk apresiasi terhadap individu, melainkan pengakuan terhadap nilai-nilai yang diperjuangkan penerimanya. Melalui penghargaan tersebut, universitas memilih figur yang diyakini dapat menjadi teladan bagi generasi muda sekaligus menyampaikan pesan mengenai nilai-nilai yang ingin dijunjung tinggi oleh institusi akademik.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *