News

Panca Demokrat Sentil Buzzer Genk Solo yang Promosikan MDIS Usai Penjelasan Sulfikar Amir



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Politikus Partai Demokrat (PD) Cipta Panca Laksana menyindir para buzzer yang disebutnya sebagai Genk Solo karena ramai mempromosikan Management Development Institute of Singapore (MDIS).

Sindiran itu disampaikan Panca di tengah kembali mencuatnya polemik pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Singapura, menyusul penjelasan Profesor Sulfikar Amir mengenai perbedaan kualifikasi Advanced Diploma dan A-Level.

“Di sini buzzer-buzzer Genk Solo berlomba-lomba bodoh mempromosikan MDIS 🤣🤣,” tulis Panca, Melalui akun X pribadinya, Kamis (15/10/2026).

Istilah Genk Solo kerap digunakan dalam percakapan politik untuk merujuk pada kelompok yang diasosiasikan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Sementara itu, Profesor Sulfikar Amir dari Nanyang Technological University (NTU), Singapura, kembali menjelaskan perbedaan antara program Advanced Diploma yang ditawarkan lembaga pendidikan swasta dan kualifikasi A-Level.

Penjelasan tersebut menjadi sorotan di tengah perdebatan mengenai latar belakang pendidikan Gibran di Singapura.

Menurut Sulfikar, A-Level merupakan salah satu jalur pendidikan yang dapat digunakan untuk mendaftar ke perguruan tinggi di Singapura. Untuk memperoleh kualifikasi tersebut, peserta didik harus melewati ujian dengan mata pelajaran yang spesifik.

“Kalau yang ditanya anak-anak Singapura, mereka akan mengamuk. Karena untuk menyelesaikan A-Level itu susah sekali. Di ujungnya, A-Level itu ada ujian. Di mana mereka harus mengambil subjek-subjek yang sangat spesifik,” kata Sulfikar.

Ia menjelaskan bahwa mata pelajaran dalam jalur A-Level mencakup kelompok sains serta humaniora dan seni. Bidang sains meliputi fisika, biologi, dan kimia, sedangkan kelompok humaniora dan seni mencakup ekonomi, geografi, sejarah, serta bahasa dan sastra. Matematika juga menjadi salah satu mata pelajaran yang dapat dipilih.

Sulfikar menegaskan, hasil ujian A-Level menjadi salah satu faktor penting bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas di Singapura.

“Anak-anak yang ambil A-Level itu harus ujian ini, yang superberat. Dan itulah yang menentukan masa depan mereka, ujian SMA. Jadi, ketika mereka menyelesaikan itu, barulah mereka bisa mendaftar di universitas-universitas di Singapura yang superkompetitif,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi di negara tersebut. Sulfikar menyebut hanya sekitar 30 persen lulusan A-Level dan politeknik yang dapat ditampung di universitas-universitas Singapura.

Sebagian lulusan lainnya memilih melanjutkan pendidikan ke luar negeri, seperti Australia, Amerika Serikat, China, dan Inggris.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *