News

Henri Subiakto: Prabowo Benci Pakar, Ironi Dia Anak Kandung Intelektual Prof Soemitro



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Sindiran keras Presiden Prabowo Subianto kepada sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar dan kerap mengkritik kebijakan pemerintah menuai komentar dan pandangan. Dalam pidatonya saat menghadiri Puncak Peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Jumat (18/9/2026), Prabowo menyebut ada pakar yang menurutnya justru menjadi “goblok” karena terlalu merasa pintar.

Pakar ilmu komunikasi, Henri Subiakto memandang gaya Komunikasi Prabowo punya banyak kesamaan dengan Trump, yang dalam retorikanya menganggap dirinyalah yan sedang berjuang membesarkan kejayaan negara AS.

“Dia yang mewakili kepentingan negara, sedang pengritiknya dicap sebagai “Traitor”, pengkhianat, penyebar berita bohong dan “The enemy of the American people” musuh rakyat AS. Prabowo melakukan hal yang tak banyak beda,” kata Henri melalui keterangannya di X, Minggu (20/9/2026).

Menurut Henri yang juga Guru Besar Universitas Airlangga, Trump dikenal menerapkan gaya komunikasi “Discredit Strategy” yang hobinya suka menyerang dan mendiskreditkan kaum kritis di Amerika Serikat sebagai kelompok yang tidak patriotik

“Prabowo nampaknya tidak suka bahkan benci dengan Pakar, terutama pada mereka yang mengritiknya,” tegas Henri.

Sikap seperti ini, kata dia, sering disebut anti-intellectualism, merujuk pada orang atau pemimpin yang bersikap skeptis, tidak percaya, bahkan bermusuhan terhadap intelektual, akademisi, kaum terdidik, serta kegiatan intelektual yang disebut pakar.

Ia menjelaskan, pakar atau kaum intelektual dianggap sebagai kelompok yang berbeda dari “rakyat biasa,” terlalu teoritis, tidak praktis, atau bahkan berbahaya.

Dalam konteks politik modern atau demokratis, istilah ini sering dipakai untuk menggambarkan retorika populis dari pemimpin yang aslinya berkarakter otoriter, yang suka menyerang “elit intelektual,” “profesor,” atau “pakar”.

Baginya kaum intelektual itu dianggap “mengganggu” karena cenderung mempertanyakan kebijakan kekuasaan dan menyebarkan pemikiran kritis.

“Tidak mengherankan jika selama ini Pemerintahan Prabowo terkesan tidak mendengarkan kritik dan masukan. Karena menganggap Pemerintahlah yang paling benar. Hanya institusinya yang mewakili kebaikan dan kepentingan negara,” ungkapnya.

Sedangkan, lanjut Henri, kaum intelektual kritis dicap negatif sebagai “bodoh”, melengkapi perbendaharaan kata sebelumnya seperti “antek asing”, dan “londo ireng”.

“Makanya tidak heran, jika orang orang yang ada di sekitar kekuasaan, dipilih yang tidak bicara kritis. Yang penting nurut dan loyal sebagaimana dalam tradisi prajurit atau tentara,” ujarnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *