News

Soroti Kebakaran Hutan, Made Supriatma Sentil Prioritas Anggaran: Butuh Pesawat Water Bombing, Bukan Kuda Mewah



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Peneliti ISEAS-Yusof Ishak Institute, Made Supriatma, menyampaikan kritik menohok terkait upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat yang ditinjau langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Melalui catatan kritisnya, Made menyoroti berbagai ketimpangan antara retorika megah pemerintah dan realitas penanganan bencana di lapangan yang dinilainya jauh dari kata memadai.

Soroti Presiden Tanpa Masker

Made mengaku prihatin melihat Presiden Prabowo berjalan menyusuri semak belukar dan menyapa petugas pemadam tanpa menggunakan masker di tengah paparan asap pekat. Menurutnya, hal tersebut bukan bentuk ketahanan fisik, melainkan kekeliruan dalam memberikan contoh kesehatan publik.

“Presiden tidak menggunakan masker, mungkin agar tetap memperlihatkan postur tahan banting. Ini pikiran yang salah. Masker adalah perlindungan dasar dari penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA),” tegas Made dikutip fajar.co.id, Minggu (23/8/2026).

Dia menekankan bahwa melindungi rakyat tidak selalu membutuhkan hal-hal besar, melainkan konsistensi pada hal dasar yang esensial, seperti penyediaan masker dan tabung oksigen di daerah terdampak asap.

Sindir Alutsista Karhutla: Hutan Luas Cuma Pakai Mesin Dua Tak

Kritik tajam Made juga tertuju pada minimnya sarana pemadaman yang dimiliki Indonesia. Saat meninjau lokasi, terdengar suara mesin pompa air dua tak yang digunakan petugas untuk memadamkan karhutla skala besar.

“Ini sangat kontras dengan apa yang selalu diucapkan Presiden yang sering mengutip angka-angka besar. Tapi untuk memadamkan kebakaran hutan, kita hanya punya mesin dua tak,” kritiknya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kebutuhan pesawat pemadam amfibi seperti Viking CL-415EAF (dahulu Canadair CL-415) yang mampu menyedot 6.000 liter air dalam 12 detik. Pesawat tersebut ditaksir berharga sekitar Rp475 miliar per unit.

Kritik Skala Prioritas Anggaran

Made menilai angka tersebut sangat terjangkau bagi anggaran negara, terutama jika dibandingkan dengan kasus-kasus korupsi atau pengeluaran untuk kegiatan seremonial.

“Kita jelas butuh pesawat pembom air, bukan kuda untuk kemegahan upacara. Kita butuh masker untuk melindungi anak-anak kita, bukan ribuan merpati putih,” tutur Made.

Menutup keterangannya, Made memberikan analogi sinis terkait kinerja jajaran pemerintahan saat ini dalam merespons krisis lingkungan di daerah.

“Kalau boleh sedikit sinis, pemerintahan kita sekarang ini memang jalannya persis seperti pompa air dua tak yang hendak memadamkan kebakaran hutan,” pungkasnya. (Elva/Fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *