News

Rektor Terjaring OTT KPK, Tere Liye Sentil Pemerintah Pusat: Kembalikan Pilrek ke Senat Guru Besar



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Penulis kondang, Tere Liye menyoroti Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof Dr Ir Akhmad Sodiq.

Tere Liye meminta pemerintah mengembalikan pemilihan rektor (Pilrek) kepada senat guru besar. Menurutnya, kampus harus diberi kewenangan untuk menentukan sendiri pemimpinnya.

“Saya dari dulu selalu bilang: Kembalikan pemilihan rektor itu ke senat guru besar. Titik final,” kata Tere Liye dikutip dari unggahannya di sosial media, Jumat (21/8/2026).

Tere Liye mengatakan Pilrek seharusnya menjadi kewenangan profesor di masing-masing kampus. Ia menilai profesor lebih memahami kualitas calon yang akan memimpin perguruan tinggi.

“Biarkan kampus memilih sendiri rektornya. Diwakili oleh profesor-profesor di sana,” ungkap Tere Liye.

“Kan mereka itu profesor-profesor loh. Kamu mau punya hak suara, buktikan jadi profesor dulu,” sambungnya.

Menurut Tere Liye, keterlibatan pemerintah dalam pemilihan rektor PTN. Menurutnya, pemerintah memiliki porsi suara yang besar dalam proses tersebut.

“Tapi begitulah, di Indonesia, rektor PTN ikut dipilih oleh pemerintah, dan mereka punya suara terbesar, 35%,” katanya.

“Dus, siapapun yang didukung oleh pemerintah, bisa dikatakan menang deh,” lanjutnya.

Dia lalu menyinggung pemilihan Rektor Unsoed pada 2022. Menurut Tere Liye, dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam kemenangan Akhmad Sodiq.

“Kasus di Unsoed ini misalnya, tahun 2022, jika orang ini tidak didukung oleh pemerintah, dia jelas kalah di pemilihan,” ujarnya.

“Tapi begitulah, dia dapat suara pemerintah, dia jadi Rektor,” sambungnya.

Akhmad Sodiq saat ini kembali menjadi sorotan setelah diamankan KPK dalam OTT di lingkungan Unsoed. Tere Liye mengaitkan perkara tersebut dengan dugaan suap dalam penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri.

“Sekarang, Prof. Dr. Ir. Akhmad Sodiq ditangkap KPK. Apa kasusnya? Suap masuk jalur mandiri,” ungkap Tere Liye.

“Sama persis dgn kasus di Unila, dan Udayana,” lanjutnya.

Tere Liye menilai penerimaan mahasiswa melalui jalur mandiri perlu mendapat perhatian serius. Ia bahkan memprediksi kasus serupa bisa ditemukan di kampus lain.

“Dan, jika jalur mandiri ini benar-benar dipelototin, bisa-bisa lebih banyak lagi rektor masuk penjara,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut memegaruhi kualitas rektor yang terpilih. Ia mempertanyakan apakah seluruh rektor dipilih karena kualitas atau faktor lain.

“Karena rektor-rektor yg terpilih jangan-jangan hanyalah kualitas KW saja, bukan?” katanya.

“Sorry, saya nanya loh ini? Dia terpilih jangan-jangan karena ‘dekat’ dengan pemerintah,” sambungnya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *