Denny Indrayana-Hendri Satrio ‘Dibongkar’ Dede Budhyarto, Diduga Ada Project Jatuhkan Gibran

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budhyarto, mempertanyakan kedudukan Pakar Hukum Tata Negara Denny Indrayana dan pengamat politik Hendri Satrio dalam isu ijazah SMA Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Dede menduga keduanya memiliki agenda yang sama untuk mendegradasi posisi politik Gibran, meski menggunakan pendekatan yang berbeda.
Denny dan Hendri Diduga Punya ‘Project’ yang Sama
Dede secara terbuka menyebut adanya dugaan proyek politik untuk menjatuhkan Gibran.
“Patut diduga Denny Indrayana dan Hendri Satrio sedang menjalankan project mendegradasi Wapres Gibran,” ujar Dede, dikutip fajar.co.id, Jumat (14/8/2026).
Baginya, pola yang digunakan kedua tokoh tersebut memang berbeda. Namun, Dede menilai arah komunikasinya sama-sama berpotensi menggiring opini publik terhadap Gibran.
Dede kemudian menyinggung langkah Denny Indrayana yang menggelar sayembara dengan hadiah ratusan juta rupiah terkait ijazah SMA Gibran.
“Satu mengaku Profesor Hukum, main sayembara ratusan juta sambil desak mundur,” tukasnya.
Denny sebelumnya menaikkan hadiah sayembara menjadi Rp250 juta bagi pihak yang dapat menunjukkan ijazah SMA Gibran yang dimaksud.
Bagi Dede, langkah tersebut menunjukkan pendekatan yang agresif dalam mempertanyakan dokumen pendidikan orang nomor dua di Indonesia itu.
Hendri Satrio Juga Dicurigai
Bukan hanya Denny, Dede turut menaruh curiga pada sikap pengamat politik Hendri Satrio.
Ia mempertanyakan pertanyaan Hendri mengenai siapa saja yang pernah bersekolah di SMA yang sama dengan Gibran.
“Satu lagi pengamat yang katanya intelek dan netral, tiba-tiba ikut gaya Roy Suryo cs dengan pertanyaan sinis, siapa yang pernah satu SMA dengan Gibran?,” kata Dede.
Dede berujar, pertanyaan tersebut berpotensi memperpanjang perdebatan mengenai latar belakang pendidikan Gibran tanpa menghadirkan bukti konkret yang dapat mengakhiri polemik.
Keduanya Sama-sama Menggiring Opini
Dede melihat terdapat kesamaan pola antara Denny dan Hendri dalam membangun narasi mengenai Gibran.
“Sama-sama menggiring opini seolah ada yang disembunyikan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa perbedaan hanya terlihat dari cara keduanya menyampaikan kritik.
“Sama-sama memelihara polemik, cuma kemasannya beda, satu agresif, satu pura-pura elegan,” lanjut Dede.
Dede kemudian meminta siapa pun yang mempertanyakan keabsahan atau latar belakang pendidikan Gibran untuk menunjukkan bukti konkret.
“Kalau memang netral dan intelek, tunjukkan bukti konkrit atau diam menunggu proses hukum,” tandasnya.
Menurut dia, perdebatan mengenai persoalan hukum semestinya tidak berhenti pada narasi maupun pertanyaan yang terus diproduksi di ruang publik.
Source link
