News

Jhon Sitorus: Benar-benar di Luar Nalar, Jobdesk-nya Jaga Koperasi tapi Dilatih Ala Militer Aktif



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pegiat media sosial, Jhon Sitorus, ikut berbicara mengenai pelatihan bergaya militer yang diberikan kepada calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Menurut Jhon, pendekatan tersebut tidak selaras dengan tugas utama seorang pengelola koperasi. Apalagi, hingga saat ini pelatihan itu disebut telah menelan lima korban jiwa.

Ia mempertanyakan relevansi pelatihan ala militer bagi calon manajer koperasi yang nantinya bertugas mengelola usaha dan melayani masyarakat.

“Ini benar-benar di luar nalar. Jobdesk-nya mengelola koperasi/warung, tapi training perang ala militer aktif,” ujar Jhon kepada fajar.co.id, Jumat (3/7/2026).

Ia berpandangan, kemampuan yang seharusnya diprioritaskan dalam pelatihan adalah keterampilan nonteknis (soft skill), seperti komunikasi, pelayanan kepada pelanggan, serta kemampuan mengelola bisnis dan keuangan.

“Padahal, yang diperlukan adalah soft skill, terutama komunikasi dalam melayani pembeli, pengelolaan bisnis, dan keuangan,” lanjutnya.

Pendekatan Militer Tidak Tepat

Jhon menegaskan bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan melalui pendekatan militer.

“Heii, tidak semua urusan diselesaikan dengan cara militer,” cetusnya.

Menurutnya, pengelolaan koperasi sebagai urusan sipil seharusnya menggunakan pendekatan yang sesuai dengan karakter tugas tersebut.

“Urusan sipil pakai pendekatan sipil, bukan senapan atau yel-yel yang cringe (garing) itu,” bebernya.

Lebih lanjut, Jhon mengingatkan bahwa program Koperasi Desa Merah Putih merupakan program berskala besar sehingga memerlukan metode pembinaan yang tepat.

Ia khawatir apabila pendekatan yang digunakan sejak awal tidak sesuai dengan kebutuhan pengelolaan koperasi, hasil yang diperoleh juga tidak akan optimal.

“Program KDMP yang besar dilakukan dengan pendekatan yang salah, hasilnya juga pasti amburadul,” kuncinya.

Sebelumnya, pegiat politik, ekonomi, dan sosial, Arif Wicaksono, mempertanyakan efektivitas pendekatan tersebut dalam meningkatkan kualitas pengelolaan koperasi.

Menurut Arif, keberhasilan sebuah koperasi tidak ditentukan oleh kedisiplinan ala militer semata, melainkan oleh kemampuan manajerial yang mampu mendorong kinerja usaha dan tata kelola yang baik.

Pelatihan Bergaya Militer Disoal

Arif mengaku tidak sependapat jika pelatihan bagi pengelola Kopdes lebih banyak berfokus pada aspek militerisasi.

“Gagal paham pelatihan militer Kopdes. Membuat Kopdes untung, ukurannya bukan seberapa rapi barisannya,” ujar Arif kepada fajar.co.id, Kamis (2/7/2026).

Ia menegaskan, indikator keberhasilan koperasi dapat dilihat dari kondisi usaha dan manfaat yang dirasakan anggotanya.

“Ukurannya, laporan keuangan sehat, anggota bertambah, usaha berkembang, dan korupsi berkurang,” tukasnya.

Arif melanjutkan, kompetensi manajerial tidak bisa digantikan dengan latihan fisik atau kedisiplinan bergaya militer.

“Kompetensi manajerial tidak bisa digantikan dengan latihan militer. Mengelola koperasi bukan hal yang sederhana,” ucapnya.

Ia menjelaskan, seorang manajer koperasi harus menguasai berbagai aspek penting dalam pengelolaan usaha.

“Seorang manajer harus mampu membaca laporan keuangan, mengelola arus kas, menyusun strategi bisnis, mengendalikan risiko, hingga memastikan kepatuhan terhadap aturan,” sebutnya.

Fokus pada Penguatan Kapasitas

Arif berpandangan, apabila pemerintah ingin menjadikan Kopdes sebagai penggerak ekonomi desa, perhatian utama seharusnya diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Kalau pemerintah ingin Kopdes benar-benar menjadi motor ekonomi desa, investasi terbesar seharusnya pada peningkatan kapasitas, akuntansi, pemasaran, digitalisasi, logistik, tata kelola, dan kepemimpinan organisasi,” terangnya.

Ia mengakui disiplin merupakan unsur penting dalam kepemimpinan. Namun, hal itu bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan sebuah koperasi.

“Disiplin memang penting. Tetapi disiplin hanyalah salah satu unsur dalam kepemimpinan,” tutur Arif.

“Tanpa kompetensi teknis dan sistem pengawasan yang kuat, koperasi tetap berisiko gagal meski para pengurusnya sangat disiplin,” tambahnya.

Perkuat Tata Kelola Koperasi

Lebih lanjut, Arif mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan banyak koperasi mengalami kegagalan bukan karena kurang disiplin, melainkan akibat lemahnya tata kelola.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *