BPS Catat Inflasi 3,34 Persen, Dede Budhyarto Nilai Masih Sesuai Target BI

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen.
Angka tersebut memicu beragam tanggapan, termasuk dari mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budhyarto.
Dede mengatakan bahwa kenaikan inflasi masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor musiman dan dinamika global yang saat ini masih diantisipasi pemerintah.
Faktor Pendorong Inflasi
Mengacu pada data BPS, Dede mengatakan inflasi tahunan memang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, angkanya masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia.
“BPS mencatat inflasi tahunan Juni 2026 sebesar 3,34 persen, memang naik dibanding bulan sebelumnya,” ujar Dede, dikutip fajar.co.id, Kamis (2/7/2026).
“Tapi tetap berada di kisaran sasaran Bank Indonesia yang aman dan terkendali (3±1 persen),” tambahnya.
Ia menekankan bahwa kondisi tersebut bukan merupakan lonjakan inflasi yang tidak terkendali.
“Ini bukan lonjakan tak terkendali, melainkan efek musiman dan eksternal yang sedang dikelola pemerintah,” ucap Dede.
Dede melanjutkan, kenaikan inflasi terutama dipicu oleh harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif angkutan udara yang termasuk dalam komponen administered prices.
“Penyebab utamanya, harga bensin dan tarif angkutan udara atau komponen administered prices yang dikendalikan pemerintah,” tukasnya.
Selain itu, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga disebut ikut memberikan tekanan terhadap harga energi dunia.
“Faktor geopolitik di Timur Tengah (Hormuz dan Iran) yang mendorong harga energi global,” bebernya.
Ia optimistis tekanan tersebut akan berangsur mereda seiring membaiknya kondisi global dan penyesuaian harga BBM.
“Begitu angin damai mulai bertiup dan harga BBM Pertamina sudah mulai turun, tekanan ini pun akan mereda,” imbuhnya.
Optimistis Inflasi Juli di Bawah 3 Persen
Dede juga menyinggung langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok agar tidak memicu inflasi lanjutan.
“Pemerintah terus memantau ketat harga bahan pokok seperti bawang merah dan bawang putih agar tidak menjadi pendorong inflasi lanjutan,” terangnya.
Ia bahkan meyakini target inflasi pada Juli 2026 berada di bawah 3 persen masih sangat mungkin dicapai.
“Target inflasi Juli di bawah 3 persen sangat realistis. Soal inflasi tinggi di Papua Pegunungan (7,8 persen), memang perlu perhatian khusus,” tegasnya.
Baginya, tingginya inflasi di Papua Pegunungan lebih dipengaruhi persoalan distribusi dan kondisi geografis.
“Ini lebih ke tantangan distribusi dan geografis, bukan kegagalan kebijakan nasional,” jelasnya.
Source link
