News

Menyambut Muktamar ke-35 NU, Momentum Menjaga Tradisi Aswaja dan Menentukan Arah Gerakan Abad Kedua



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Nahdlatul Ulama (NU) akan memasuki salah satu momentum penting dalam perjalanan panjang organisasinya melalui pelaksanaan Muktamar ke-35. Forum tertinggi organisasi ini bukan hanya menjadi ruang pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ajang evaluasi, konsolidasi, serta penyusunan arah perjuangan NU dalam menghadapi tantangan zaman.

Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) sekaligus Anggota DPR/MPR RI 1999–2013, Dr. H. A. Effendy Choirie, M.Ag., M.H., menilai Muktamar ke-35 memiliki arti strategis karena NU kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Dalam pandangannya, tema “NU: Tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, Relasi Kekuasaan, Kesejahteraan Sosial, dan Geopolitik Global” bukan hanya sekadar slogan, melainkan gambaran besar mengenai arah NU dalam memasuki abad kedua pengabdiannya.

Menurutnya, NU sejak awal berdiri pada 31 Januari 1926 memiliki misi menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang diwariskan para ulama. Prinsip tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) menjadi fondasi utama dalam membangun karakter keberagamaan warga Nahdliyin.

Tradisi keagamaan seperti tahlilan, istighasah, pembacaan Diba’ dan Barzanji, yasinan, shalawatan, ziarah kubur, haul ulama, hingga berbagai tradisi pesantren disebut menjadi bagian dari perjalanan dakwah Islam Nusantara.

Tradisi tersebut tidak hanya dipandang sebagai praktik keagamaan, tetapi juga menjadi media dakwah yang mampu memperkuat hubungan sosial masyarakat. Melalui pendekatan budaya, para ulama dan wali berhasil menyebarkan Islam secara damai tanpa menghilangkan nilai-nilai lokal yang tidak bertentangan dengan syariat.

Namun, Effendy melihat perkembangan era digital membawa tantangan baru bagi tradisi Aswaja. Penyebaran pemikiran keagamaan melalui media sosial membuat berbagai pandangan semakin mudah diterima masyarakat, termasuk kelompok yang memiliki pemahaman berbeda terhadap praktik keagamaan NU.

Menurutnya, perbedaan pandangan dalam Islam merupakan hal yang biasa dalam sejarah keilmuan. Persoalan muncul ketika perbedaan tersebut berubah menjadi sikap saling menyalahkan dan merasa paling benar.

NU, kata dia, perlu menghadapi tantangan tersebut dengan memperkuat literasi keagamaan dan dakwah digital yang berbasis ilmu, bukan dengan memperbesar konflik.

“Yang perlu dilakukan bukanlah membalas caci maki dengan caci maki, tetapi memperkuat literasi keagamaan, menjelaskan dasar-dasar amaliah Aswaja secara ilmiah, dan menyampaikannya melalui media digital dengan bahasa yang bijaksana dan mudah dipahami, terutama oleh generasi muda,” tulis Effendy.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *