News

Said Didu Ungkap Alasan Indonesia Tidak Bisa Bangun Kilang Minyak, Ternyata Ada Lobi-lobi Singapura



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Mantan Sekretaris BUMN, Muhammad Said Didu, terus menyoroti kisruh yang terjadi antara Indonesia dengan Singapura belakangan ini. Bermula dari protes asap karhutla hingga melebar pada persoalan hubungan bisnis kedua negara.

Said Didu menilai, dengan adanya problem yang terjadi antara Singapura dan Indonesia belakangan, menjadi ruang bagi publik untuk membuka apa yang terjadi sebenarnya. Singapura dinilai selama ini telah mengeruk keuntungan besar dari sumber daya alam Indonesia, sementara Indonesia hanya menerima banyak kerusakan lingkungannya.

“Saya ingin menjelaskan fakta terkait dengan bagaimana Singapura. Singapura itu memeras Indonesia lewat regulasi. Kita bahas tentang bagaimana BBM. Kita masih ingat tentunya yang sangat terkenal dulu adalah Petral. Kenapa Indonesia membikin Petral di Singapura? Untuk pembelian,” kata Said Didu.

Said Didu menjelaskan bahwa ada posisi peran Singapura untuk menutupi transaksi gelap yang terjadi di negara lain, kemudian seakan-akan dibersihkan Singapura.

Dia mengungkap bagaimana merancang pengadaan BBM lewat Undang-Undang APBN yang dengan undang-undang tersebut, seakan-akan dan bukan seakan-akan mewajibkan Indonesia membeli BBM dari Singapura dengan harga berapa pun dari Singapura.

“Masih ingat dulu kita menetapkan BBM. BBM itu adalah ditetapkan jenisnya BBM yang disubsidi adalah BBM yaitu premium RON 90. Dan ingat RON 90 saat itu hanya diproduksi di Singapura, tapi ditetapkan di Indonesia lewat Undang-Undang APBN bahwa yang disubsidi adalah premium,” kata Said Didu.

Yang kedua, harganya ditetapkan Undang-Undang APBN juga adalah MOPS plus alpha. MOPS menurutnya harga rata-rata minyak atau BBM di Singapura. Terus alpha itu adalah keuntungan Pertamina, biaya transportasi, asuransi, biaya penyimpanan, biaya penyusutan, dan lain-lain.

“Artinya bisa kita bayangkan bahwa berapa pun harga BBM yang disubsidi yaitu premium di Singapura itu yang harus kita beli. Artinya tidak ada lagi negosiasi apa pun kan dimasukkan di dalam Undang-Undang APBN,” kata Said Didu.

Kondisi itu kata dia telah puluhan tahun dialami Indonesia, sehingga Singapura tenang-tenang saja karena sudah ada pembeli tetap berapa pun harga premium yang diproduksi oleh kilang Singapura karena tidak ada kilang lain yang memproduksi premium.

Namun, Said Didu menyebut bukan hal itu yang menarik sebenarnya, tapi keinginan Singapura yang difasilitasi oleh para pengkhianat bangsa untuk mengeruk keuntungan dari Indonesia lewat memerah lewat kebijakan.

Karena itu, Said Didu mengaku saat masih sebagai sekretaris BUMN, dirinya tidak pernah mau menerima kebijakan tersebut. “Saya mengusulkan agar BBM yang kita beli itu BBM dibeli di pasar spot mana saja harganya yang paling murah. Pasar itu bukan hanya Singapura loh, banyak negara lain sebagai pasar spot. Bisa negeri Timur Tengah, bisa dari Eropa, bisa dari China, bisa dari mana saja,” kata Said Didu.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *