Refly Harun Sebut Dian PSI Jadi Sumber Polemik Ijazah Jokowi, Soroti Hal Ini

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun, menyebut Direktur Media Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama, menjadi salah satu sumber polemik terkait ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
“Masalah perdebatan itu makin dibikin hot dengan adanya unggahan Dian Sandi pada tanggal 1 April 2021 yang mengatakan, ‘Tadi biar kalian liburannya tenang, saya kasih yang asli’,” kata Refly Harun dalam kanal YouTube-nya, dikutip Rabu (28/10/2026).
Menurut Refly, dalam persidangan akhirnya terungkap bahwa Dian Sandi tidak pernah melihat ijazah asli Jokowi. Ia juga disebut tidak memperoleh dokumen tersebut dengan cara memotret ijazah fisik atau analog milik Jokowi.
“Tetapi simsalabim, pokoknya katanya dari hyper poison itu sendiri sudah hilang entah ke mana, ya. Ini kemudian yang menjadi masalah. ‘Buat yang ributin fotokopi ijazah Pak Jokowi yang saya unggah pada utas, biar kalian tenang Lebarannya, ini saya unggah yang asli’,” ungkap Refly saat mengutip unggahan Dian Sandi.
Refly kemudian menyoroti pernyataan Dian Sandi yang dinilai berkelit dengan mengatakan bahwa orang yang mengetahui isi berita acara pemeriksaan (BAP) pasti sudah memahami persoalan tersebut.
Padahal, menurut Refly, tidak semua orang membaca BAP dan tidak semua orang memiliki akses terhadap dokumen tersebut. Biasanya, isi BAP tidak boleh diungkapkan sembarangan sebelum dibacakan atau dikonfirmasi dalam persidangan.
“Karena kalau di-spill oleh yang bersangkutan, bagaimana kalau dia kemudian mencabut keterangannya dalam BAP? Kan jadi tidak strategis jadinya. Jadi, tidak semudah itu juga kita men-spill soal itu. Bagaimana kalau jebakan Batman, misalnya?” tuturnya.
Refly menegaskan, persoalan utamanya adalah pengakuan bahwa dokumen tersebut bukan diperoleh Dian Sandi dari ijazah fisik Jokowi. Ia juga menyebut Dian Sandi belum pernah melihat ijazah Jokowi secara langsung.
Selain itu, Refly mengatakan Dian Sandi mengaku pergi ke Solo untuk meminta maaf kepada Jokowi sehari setelah Brigjen Johandani menyampaikan konferensi pers.
“Nah, Pak Jokowi enggak marah di situ saja, ya. Kelihatan betul bahwa dia memperoleh dokumen itu entah dari mana dan hyper poison-nya dari mana,” ujar Refly.
Lebih lanjut, Refly menilai persoalan tersebut tidak bisa serta-merta ditarik menjadi tuduhan bahwa seseorang telah melakukan fitnah hanya karena dianggap mengetahui keaslian dokumen, kemudian menyatakan dokumen tersebut palsu.
“Jadi, karena keterangannya di bawah sumpah, takut juga Dian Sandi, takut juga Azwan. Karena kalau mereka mengatakan sudah pernah melihat dan tiba-tiba yang mereka lihat ditunjukkan, maka belum jelas ini, ya,” kata Refly.
Source link
