News

Akademisi NTU Tegaskan A-Level Tak Bisa Disetarakan Program Short Course 6 Bulan: Perjuangannya Sangat Berat



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Akademisi Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Prof. Sulfikar Amir, kembali angkat bicara mengenai sistem pendidikan di Singapura, khususnya terkait posisi sertifikat A-Level dan Advanced Diploma.

Dalam perbincangan di kanal YouTube Refly Harun, Sulfikar Amir menyebut sertifikat A-Level dan Advanced Diploma sama sekali berbeda dengan ijazah Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia menekankan bahwa kedua kualifikasi tersebut tidak bisa disetarakan begitu saja karena struktur dan bobot akademiknya yang jauh berbeda.

Dalam penjelasannya, Sulfikar Amir menyebut untuk materi dari Advanced Diploma itu merupakan materi-materi kuliah dasar yang diambil. Ia menekankan untuk Advanced Diploma ini seperti kursus.

“Ya nggaklah, beda. Karena kalau kita lihat materi dari advance diploma itukan materi-materi kuliah dasar yang diambil,” kata Sulfikar Amir dikutip Minggu (25/10/2026).

“Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, itu sama dengan kursus. Misalnya kita mau kursus marketing, komputer dan sebagainya,” sebutnya.

Jalur Seleksi A-Level dan Persaingan Masuk Universitas Singapura

Sulfikar menjelaskan bahwa jalur A-Level (Advanced Level) melibatkan ujian kualifikasi nasional dengan mata pelajaran spesifik yang menjadi bagian penting dalam proses seleksi ketat menuju perguruan tinggi negeri maupun swasta ternama.

Beberapa bidang studi yang dapat dipilih dalam jalur A-Level antara lain fisika, biologi, kimia, ekonomi, geografi, sejarah, bahasa dan sastra, serta matematika.

“Jadi, seperangkat kuliah-kuliah ini kita ambil,” tuturnya.

Menurut dia, hasil ujian A-Level menjadi salah satu faktor penting bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas di Singapura, yang memiliki tingkat persaingan masuk sangat ketat.

“Yang kemudian nanti bisa jadi syarat yang terpenuhi untuk melanjutkan ke program S1 yang dia tawarkan MDIS dengan meminjam kurikulum dari Universitas dari luar,” paparnya.

Lebih jauh, Sulfikar Amir lantas menantang Refly Harun untuk melihat respon anak-anak di Singapura yang menyamakan Advanced Diploma dengan A-Level. Dia mengatakan anak-anak di Singapura bisa marah bahkan tidak rela jika disamakan, sebab perjuangan menempuh A-Level sangat berat lalu disetarakan dengan program berdurasi singkat.

“Bang Refly bisa uji itu, coba saja kalau ke Singapura tanya anak-anak yang lulus A level terus kemudian apakah mereka rela yang dilakukan itu dibandingkan atau disetarakan dengan program 6-8 bulan,” terangnya.

Rekam Jejak Riwayat Pendidikan Gibran di Singapura dan Australia

Pernyataan Sulfikar Amir mengenai dinamika kualifikasi pendidikan di Singapura ini mengemuka di tengah sorotan publik terhadap rekam jejak akademik tokoh nasional, salah satunya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *