Prabowo Kalah Jauh dari Dedi Mulyadi, Gibran dan AHY Juga Unggul, Saidiman Ahmad Ungkap Ini

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pengamat politik Saidiman Ahmad menyoroti hasil simulasi survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2026 yang menunjukkan posisi Presiden Prabowo Subianto dalam sejumlah skenario pemilihan presiden (Pilpres).
Dalam tulisannya pada Sabtu (17/10/2026), Saidiman memaparkan bahwa Prabowo memperoleh dukungan 9,8 persen dalam simulasi semi terbuka. Angka tersebut bersaing dengan Anies Baswedan yang meraih 10,3 persen dan Gibran Rakabuming Raka sebesar 8,4 persen.
Sementara itu, Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan sebutan KDM, memperoleh dukungan 35,5 persen, jauh di atas nama-nama lain dalam simulasi tersebut.
Saidiman menilai hasil tersebut menjadi gambaran menarik mengenai posisi Prabowo dalam peta dukungan politik, terutama ketika dibandingkan dengan sejumlah tokoh yang berpotensi menjadi pesaingnya.
“Jika pemilihan presiden dilakukan sekarang, besar kemungkinan Prabowo Subianto tidak akan terpilih kembali,” tulis Saidiman dalam analisisnya yang dikutip dari akun X, Sabtu (17/10/2026).
Ia merujuk pada hasil sejumlah simulasi survei SMRC yang melibatkan 1.213 responden yang dipilih secara acak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 responden diwawancarai melalui telepon, sedangkan 200 lainnya diwawancarai secara tatap muka untuk menjangkau masyarakat yang tidak memiliki telepon seluler.
Survei tersebut memiliki margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Elektabilitas Dedi Mulyadi Ungguli Prabowo dalam Simulasi Head to Head
Saidiman juga menyoroti hasil simulasi head to head yang mempertemukan Prabowo dengan Dedi Mulyadi.
Dalam simulasi tersebut, Dedi memperoleh dukungan 69,3 persen, sedangkan Prabowo hanya meraih 18,8 persen.
Menurut Saidiman, hasil itu menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan dengan survei pada Februari–Maret 2026. Saat itu, Prabowo masih unggul dengan dukungan 50,5 persen, sementara Dedi memperoleh 42,6 persen.
Namun, situasi berubah pada Juli 2026. Dedi tercatat memperoleh dukungan 59 persen, sedangkan Prabowo turun menjadi 28,3 persen.
Pada Oktober 2026, jarak dukungan keduanya semakin lebar berdasarkan simulasi yang dipaparkan Saidiman.
Ia menilai perubahan tersebut memperlihatkan pergeseran posisi Prabowo dalam simulasi elektabilitas selama delapan bulan terakhir.
“Dalam simulasi head to head dengan Dedi Mulyadi, Prabowo hanya didukung 18,8 persen, sementara Dedi 69,3 persen. Padahal pada survei Februari–Maret 2026, Prabowo masih unggul 50,5 persen berbanding 42,6 persen. Pada Juli 2026 keadaan berbalik: Dedi naik menjadi 59 persen dan Prabowo turun ke 28,3 persen. Pada Oktober, jaraknya makin lebar. Dalam delapan bulan, posisi Prabowo merosot dari unggul menjadi tertinggal lebih dari 50 poin,” sambungnya.
Source link
