Chusnul Chotimah soal Ijazah Gibran: Semakin Sering Dibahas Bukan hanya Gibran Terus Dipermalukan, Juga Orang yang Bela

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pegiat media sosial, Chusnul Chotimah, menilai bahwa perdebatan mengenai ijazah SMA wakil presiden belakangan ini, berpotensi mempermalukan Gibran Rakabuming Raka sendiri.
Bahkan dia menyebut, semakin sering isu soal ijazah SMA Gibran tersebut diperdebatkan atau jadi pembahsan di ruang publik, terutama di televisi, akan membuat Gibran hingga pendukungnya terus dipermalukan.
“Semakin sering dibahas bukan hanya Gibran yang terus dipermalukan, tapi juga orang-orang yang masih bela Gibran,” kata Chusnul Chotimah, Kamis (15/10/2026).
Penilaian itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, semakin banyak pihak yang mengungkap pandangan-pandangan negatif terkait ijazah yang diyakini tidak ada tersebut, seperti pada acara terbaru Rakyat Bersuara.
Sebelumnya, pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago, tampil berapi-api pada forum Rakyat Bersuara yang mempersoalkan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Isu ijazah SMA Gibran beberapa hari belakangan memang menjadi perdebatan hangat di tengah masyarakat, terutama setelah Mahkamah Konstitusi (MK), menyatakan tidak menemukan dokumen yang dapat membuktikan Gibran memiliki atau tamat pendidikan setara SMA sederajat.
Pangi menilai, ada yang tidak beres terkait persoalan ijazah Gibran. Karena itu, pemerintah terutama DPR tidak seharusnya membiarkan persoalan tersebut hanya dijadikan perdebatan di tengah masayarakat, tetapi harus ada langkah nyata untuk menindaklanjutinya.
“Saya berpikir hari ini, ini ada yang tidak beres. Ada sesuatu yang tidak emperi objektif, ini intersubjektif. Jadi menurut saya gak boleh dibiarkan begini terus. Tidak ada kejujuran di sini,” tandas Pangi.
Pangi juga menyorot tajam asumsi yang menyatakan bahwa Indonesia primitif karena sibuk dengan hal-hal yang tidak substansial, atau disibukkan dengan persialan ijazah SMA Gibran.
Bagi Pangi, dirinya pada dasarnya tidak terlalu mempersoalkan syarat ijazah sepanjang memiliki kapasitas dan dilandasi oleh kejujuran. Terlebih lagi menurutnya, sejumlah negara tidak mempersyaratkan ijazah dalam jabatan publik.
Hanya saja, dia mengingatkan kondisi yang ada di luar negeri tidak bisa disamakan dengan Indonesia. “Ini gak bisa orang luar negeri disamakan Indonesia,” imbuh Pangi.
Kembali pada kasus ijazah SMA Gibran, Pangi coba membandingkannya dengan ijazah mantan wakil presiden pertama Indonesia, Bung Hatta. Dia menyebut, begitu pentingnya sebuah ijazah, sampai dokumen tersebut dipamerkan pada sebuah museum.
“Bung Hatta saja itu di museum itu setahu saya itu dipamerkan ijazah Bung Hatta di museum. Di kampus yang terbaik itu di Belanda,” ungkap Pangi.
Source link
