Tak Sekadar Kejar Nilai, Sekolah Chevalier PIK2 Bentuk Karakter Anak Sejak Dini

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Nilai akademik bukan satu-satunya ukuran dalam pendidikan anak. Kemampuan berinteraksi, menghargai orang lain, mandiri, hingga membangun kebiasaan positif juga menjadi bekal penting ketika anak tumbuh dan memasuki lingkungan yang semakin luas.
Prinsip tersebut menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan Sekolah Katolik Chevalier PIK2.
Sekolah yang berada di kawasan sekitar Milenial Park PIK2 itu mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pendidikan karakter dalam kegiatan siswa sehari-hari.
Kepala Sekolah Katolik Chevalier PIK2 FX Budijuwono mengatakan kedua aspek tersebut tidak ditempatkan secara terpisah.
“Sebenarnya dua hal ini saling terintegrasi, antara akademik dengan pengembangan karakter. Mereka harus saling bersinergi,” ujar Budijuwono.
Menurut dia, pendidikan tidak cukup hanya membuat seorang siswa menguasai mata pelajaran.
“Tidak hanya sekadar anak di sini menjadi pandai, melainkan juga mereka harus mengerti karakter bagaimana saling menghargai antara satu sama lain,” katanya.
Pendekatan tersebut diterapkan sejak jenjang awal. Pada tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Chevalier melayani pendidikan mulai dari taman bermain, taman kanak-kanak, hingga sekolah dasar kelas IV.
Sekolah juga mengembangkan pembelajaran melalui berbagai aktivitas akademik maupun nonakademik.
Untuk kegiatan akademik, siswa mendapat dukungan laboratorium komputer, laboratorium sains, perpustakaan, hingga fasilitas pembelajaran seni dan musik.
“Keunggulan sekolah kami di Chevalier ini ada dua, baik yang akademik maupun yang nonakademik,” jelas Budijuwono.
Pada sisi nonakademik tersedia playground serta lapangan voli, futsal, dan basket. Sekolah juga mempunyai ruang serbaguna serta ruang makan bersama untuk mendukung kegiatan siswa.
Fasilitas tersebut memberi ruang bagi anak untuk belajar melalui berbagai bentuk aktivitas. Pendekatan pembelajaran Sekolah Chevalier juga mencakup project-based learning, pengembangan literasi dan numerasi, eksplorasi sains dan seni, serta pembelajaran bilingual.
Budijuwono menyebut pendidikan yang diterapkan sebagai proses yang terintegrasi dan holistik.
“Jadi ini pendidikan yang terintegrasi dan holistik. Bukan hanya sekadar pendidikan agama, tetapi juga ada pendidikan budi pekerti,” ujarnya.
Menurut dia, pembentukan kepribadian menjadi penting karena kemampuan tersebut akan digunakan anak ketika berhubungan dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua.
Pendekatan karakter itu berjalan bersamaan dengan konsep green school.
Anak-anak tidak hanya melihat lingkungan hijau sebagai bagian dari lanskap sekolah. Mereka juga dikenalkan dengan kegiatan berkebun untuk memahami proses tumbuhnya tanaman hingga belajar menghargai hasil pertanian.
Source link
