Survei Poltracking: PDIP dan PSI Bagai Bumi dan Langit, Efek Jokowi Redup?

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai menyalip Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam elektabilitas berdasarkan survei Poltracking Indonesia. Namun, kenaikan itu belum menunjukkan pergeseran besar dalam peta persaingan partai politik, terutama jika dibandingkan dengan kekuatan PDI Perjuangan (PDIP).
Dalam survei yang digelar pada 14-20 Agustus 2026, elektabilitas PSI tercatat 2,3 persen. Angka tersebut berada di atas PPP yang memperoleh 1,9 persen.
PSI bahkan mulai memasuki persaingan dengan sejumlah partai yang selama ini lebih dahulu memiliki basis elektoral. Kendati demikian, jaraknya dengan partai-partai papan atas masih cukup lebar.
Gerindra berada di posisi pertama dengan elektabilitas 23,2 persen. Sementara PDIP menempati posisi kedua dengan 11,6 persen.
Dengan demikian, elektabilitas PSI masih terpaut 9,3 poin persentase dari PDIP. Jaraknya dengan Gerindra bahkan mencapai 20,9 poin persentase.
Jokowi Jadi Simbol Politik PSI
Penggunaan figur Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi menjadi salah satu aspek yang menarik dalam membaca perkembangan PSI. Sejak Jokowi masuk ke dalam struktur partai, PSI semakin lekat dengan citra mantan presiden tersebut.
Namun, pengamat politik Universitas Hasanuddin, Endang Sari, menilai faktor Jokowi sejauh ini lebih banyak berfungsi sebagai simbol dan identitas politik PSI ketimbang menghasilkan lonjakan elektabilitas yang besar.
“Terkait faktor Jokowi, justru yang terjadi adalah PSI berusaha mengkapitalisasi simbol Jokowi untuk dirinya sendiri,” kata Endang, dikutip Minggu (27/9/2026).
Menurut dia, strategi PSI dan PDIP memiliki karakter yang berbeda. PDIP masih mengandalkan identitas sebagai partai mapan dengan basis ideologis dan jaringan politik yang terbentuk selama puluhan tahun.
Adapun PSI mencoba membangun posisi sebagai partai yang merepresentasikan pemilih muda dan kelompok masyarakat perkotaan. Citra tersebut kemudian dipadukan dengan kedekatan politik dengan Jokowi.
“Kondisi ini menunjukkan adanya diferensiasi strategi, PDIP bergerak sebagai partai mapan dengan akar ideologis dan jaringan luas, sedangkan PSI mencoba membangun citra sebagai partai muda, modern, dan dekat dengan Jokowi,” ujar Endang.
Berebut Segmen Pemilih Jokowi
Endang mengatakan fragmentasi suara tetap mungkin terjadi, terutama di kalangan pemilih perkotaan dan milenial. Namun, menurut dia, fenomena tersebut belum dapat dibaca sebagai ancaman langsung terhadap basis elektoral PDIP.
Salah satu alasannya adalah karakter pemilih PDIP yang dinilai lebih berlapis. Basis partai tersebut tidak hanya bertumpu pada satu segmen pemilih, tetapi juga ditopang jaringan politik yang telah terbentuk dalam waktu panjang.
Source link
