Sutardjo Tui: Stop Dulu Uang MBG, Tutupi Kebutuhan Import BBM

PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan terus menjadi perhatian serius.
Ekonom Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sutardjo Tui, menilai pemerintah perlu mencari langkah lain untuk memastikan pasokan BBM terpenuhi.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak semestinya direspons dengan pernyataan yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Salah satu opsi yang dianggap penting oleh Sutardjo adalah penggunaan sementara anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menopang kebutuhan impor BBM.
Anggaran MBG Disinggung
Sutardjo mengatakan bahwa pemerintah semestinya bisa menyusun ulang skala prioritas apabila kebutuhan BBM mengalami persoalan pasokan.
Ia menegaskan, penghentian sementara penggunaan anggaran MBG dapat dipertimbangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan impor BBM.
“Sebenarnya kalau dia bagus untuk sementara stop dulu itu uang MBG, tutupi dulu kebutuhan import BBM,” ujar Sutardjo kepada fajar.co.id, Jumat (11/9/2026).
“Saya ragukan di situ, kalau banyak import BBM, rupiah menjadi anjlok. Berbahaya juga,” tambahnya.
Kritik Sutardjo kemudian mengarah pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara berbagai kebutuhan dalam pengelolaan anggaran negara.
Ia menilai persoalan tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah, terutama jika kebijakan yang dijalankan tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Dia mau stop MBG dia gengsi juga. Kalau tidak mampu menyeimbangkan APBN itu antara MBG dan kurs mata uang asing, kalau tidak mampu, mundur saja supaya tidak bikin malu saja,” tukasnya.
Kepercayaan Publik Dipertaruhkan
Selain persoalan pasokan, Sutardjo juga menyinggung kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disampaikan pemerintah.
Ia melihat, kondisi di lapangan berbeda dengan pernyataan resmi pemerintah dan Pertamina, hal tersebut berpotensi semakin memperlebar jarak antara pemerintah dan masyarakat.
“Sudah hilang kepercayaan masyarakat, apapun pemerintah bilang orang sudah tidak percaya,” jelasnya.
Sutardjo juga mempertanyakan penjelasan mengenai fenomena panic buying yang disebut sebagai salah satu penyebab antrean BBM.
Menurut dia, klaim tersebut sulit diterima apabila pemerintah pada saat yang sama menyatakan stok BBM tersedia.
“Panic buying lah, tersedia stok BBM, ini kan tidak masuk akal. Tersedia tapi antrean panjang, kan menjadi daerah Abu Nawas,” tegasnya.
Sutardjo bahkan menekankan bahwa kondisi tersebut justru membuat masyarakat semakin mempertanyakan informasi yang disampaikan pemerintah.
Source link
