Prof Jimly Asshiddiqie Semprot Menkeu Purbaya yang Singgung soal Sudah Mati saat Bahas Utang Whoosh

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Pakar Hukum Tata Negara, Prof Jimly Asshiddiqie memberikan sorotan terhadap pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa yang membahas tentang utang Whoosh.
Prof Jimly tegas menyinggung soal etika seorang pejabat negara ketika berbicara kepada khalayak. Dia menilai, ucapan yang disampaikan Purbaya tersebut terkesan mengabaikan etika.
“Dari segi etika kepantasan, sebaiknya pejabat resmi tdk bicara sembarangan,” kata Jimly Asshiddiqie dikutip dari akun media sosialnya.
Dia menyesalkan pernyataan Menkeu Purbaya tersebut yang membahas terkait utang Keret Cepat Jakarta Bandung atau Whoosh.
“Seakan melempar beban tangung jawab ke generasi mendatang tanpa rasa bersalah,” sesal Prof Jimly.
Sebelumnya, Menkeu Purbaya memberikan penjelasan kepada awak media ketka ditanya mengenai utang Whoosh, yang bakal dicicil hingga 80 tahun ke depan.
“Jadi gini, saya cuman liat membanyar setiap tahun seperti apa sih. Saya liat setiap tahun kalau segini aja cukuplah di tangan oleh satu perusahaan punya di bawah Kementerian Keuangan,” kata Purbaya.
Dia menegaskan, utang Whoosh yang akan dibayar negara itu dipastikan tersedia dananya. “Tapi uangnya cukup berlebih,” sebutnya.
Purbaya tidak menampik jika utang kereta cepat tersebut angkanya cukup besar. Namun karena bisa dicicil hingga 80 tahun, sehingga setiap tahun negara diperkirakan membayar cicilan sekitar Rp1 triliun.
“Tapi di stretch 80 tahun. Dari kalkulasi cicilannya ya
dari tahun ke tahun Rp1 triliun,” sebutnya.
Saat ditanya kembali soal masa cicilan yang mencapai 80 tahun, Purbaya melontarkan pernyataan yang sedikit bernada bercanda. Pernyataan inilah yang kemudian dikritik oleh Prof Jimly Asshiddiqie.
“80 tahun saya dengar kemarin. Makanya hebat juga tuh, jadi pas HUT RI ke-161. Iya kita udah mati, santai aja. Kok gue paling udah mati, gue,” kata Purbaya.
Dia lantas menjelaskan bahwa utang Whoosh tersebut tidak seperti yang dibayangkan oleh masyarakat.
“Nggak gitu. Jadi tidak semengerikan yang dibayangkan sebelumnya, Karena utangnya sudah direstrukturisasi,” katanya.
Sebelumnya, Purbaya menilai beban dari skema restrukturisasi tersebut relatif lebih ringan dari perkiraan sehingga masih dapat ditangani oleh Kementerian Keuangan.
Purbaya sebelumnya telah menyampaikan akan melibatkan perusahaan special vehicle mission (SMV) atau Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kemenkeu untuk mengelola utang KCJB di bawah pemerintah.
Sejauh ini, ia mempertimbangkan Indonesia Investment Authority (INA) serta PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) untuk menjalankan mandat tersebut. Namun, mengingat beban cicilan yang relatif lebih ringan, ia membuka peluang menunjuk hanya satu SMV untuk mengelola utang Whoosh.
Source link
