News

Kasus Keracunan MBG Terjadi di Banyak Daerah, Anies Baswedan Pertanyakan Kapan Pemerintah Anggap Ini sebagai Krisis Besar



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Rentetan kasus dugaan keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa hari terakhir, laporan mengenai siswa dan warga sekolah yang mengalami gangguan kesehatan muncul dari sejumlah daerah, memunculkan pertanyaan tentang evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ikut menanggapi rangkaian kejadian tersebut. Ia mempertanyakan sejauh mana kasus keracunan yang berulang harus terjadi sebelum pemerintah melihatnya sebagai persoalan serius yang membutuhkan evaluasi menyeluruh.

Melalui akun X, Anies mengaku baru kembali dari Malaysia dan kemudian membaca sejumlah pemberitaan mengenai kasus dugaan keracunan MBG di berbagai wilayah.

“Baru balik dari Malaysia. Baca-baca berita keracunan MBG seminggu terakhir ini ada di Sidoarjo, Tana Toraja, Rembang, Klaten, dan mungkin masih ada banyak lagi tempat-tempat lain,” kata Anies dalam akun X, dikutip Minggu (6/9/2026).

Anies kemudian menyoroti jumlah korban yang muncul dalam rentetan kasus tersebut. Menurut dia, banyaknya kejadian dan jumlah korban jangan sampai justru membuat masyarakat maupun pemerintah menjadi terbiasa dan kehilangan kepekaan terhadap risiko yang dihadapi anak-anak.

Dalam periode 1 hingga 3 September 2026, ribuan orang, yang mayoritas merupakan pelajar, disebut terdampak kasus dugaan keracunan MBG. Kondisi tersebut membuat Anies mempertanyakan kapan rangkaian kejadian itu akan dianggap sebagai skandal atau krisis yang memerlukan langkah luar biasa.

“Pertanyaan saya berapa batas minimal jumlah korban anak-anak keracunan sampai kita mau anggap ini sebagai skandal, sebagai krisis besar, sebagai kasus luar biasa sehingga kita akhirnya mau tekan rem darurat untuk mengevaluasi secara total semuanya,” ucapnya.

Laporan dugaan keracunan MBG juga muncul di sejumlah wilayah lain, termasuk Sidoarjo, Tana Toraja, Rembang, Klaten hingga Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Kejadian tersebut membuat perhatian terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG semakin besar, terutama karena penerima manfaatnya banyak berasal dari kalangan anak-anak sekolah.

Bagi Anies, kejadian berulang seharusnya mendorong peningkatan kewaspadaan terhadap berbagai risiko dalam pelaksanaan program berskala besar. Ia mempertanyakan apakah insiden yang terus muncul akan tetap dianggap sebagai kejadian biasa tanpa diikuti evaluasi mendasar.

“Apa kita mau tidak sensitif pada risiko yang dihadapi anak-anak kita? Apa kita mau semakin kebal terhadap masalah dan semakin anggap semua ini kejadian biasa saja?” ujar Anies.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *