Susi Pudjiastuti Heran Pembakar Hutan di Indonesia Begitu Berani: Setiap Tahun Hal yang Sama Terjadi, Biadab

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, kembali bicara terkait persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi setiap musim kemarau.
Susi mempertanyakan mengapa praktik pembakaran lahan masih berani dilakukan di Indonesia, bahkan menurutnya jauh berbeda dengan negara tetangga seperti Malaysia.
Ia menilai musim kemarau yang lebih panjang justru dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk membuka lahan dengan cara dibakar.
“Setiap tahun hal yang sama terjadi, kemarau tiba, bakar,” ujar Susi, dikutip fajar.co.id, Senin (24/8/2026).
“Tahun ini kemarau panjang, kesempatan besar untuk bakar lebih banyak, biadab,” lanjutnya.
Susi Desak Kapolri Tangkap Pemilik Lahan
Susi meminta aparat penegak hukum tidak hanya memadamkan api, tetapi juga mengejar pihak yang bertanggung jawab atas pembakaran lahan.
Ia secara khusus meminta Kapolri turun tangan mengungkap pemilik lahan yang diduga menjadi pelaku pembakaran.
“”Tangkap pemilik lahan Pak Kapolri,” tegas Susi.
Menurutnya, penindakan terhadap pelaku harus dilakukan secara serius agar kebakaran hutan dan lahan tidak terus menjadi persoalan berulang setiap tahun.
Minta Prabowo Beri Sanksi Berat
Susi juga meminta Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas terhadap pengusaha maupun pihak lain yang terbukti melakukan pembakaran.
“Pak Presiden prabowo saatnya Bapak tertibkan, hukum dan denda seberat beratnya pengusaha atau pelaku pembakaran ini,” tukasnya.
Susi menekankan bahwa sanksi berat diperlukan untuk menciptakan efek jera sekaligus menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Tidak berhenti di situ, Susi turut membandingkan praktik pembukaan lahan di Indonesia dengan Malaysia.
Ia mengaku heran karena pembakaran lahan untuk kepentingan pembersihan lahan masih terjadi di Indonesia.
“Di Malasya tidak ada yg berani bakar lahan untuk keperluan pembersihan lahan,” imbuhnya.
Susi menduga salah satu alasan pembakaran masih dilakukan karena metode tersebut dianggap lebih murah oleh pemilik lahan.
“Di negeri kita pemilik lahan berani dan maunya land clearance pake dibakar, lebih murah, dan dapat abu atau pupuk setelahnya,” jelasnya.
Bagi Susi, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai kebakaran yang muncul saat musim kemarau. Ia mempertanyakan lemahnya efek jera sehingga pembakaran lahan masih terus berulang.
“Kenapa berani di sini?,” tandasnya.
(Muhsin/fajar)
Source link
