News

Dari Tekanan Menjadi Peluang: Menguatkan Mental dan Kecakapan Pemasaran Warga Binaan Perempuan



Oleh Akhmad Harum
Dosen Bimbingan dan Konseling FIP Universitas Negeri Makassar

PORTALUTAMA.NET, MAKASSAR — “Jika ada jalan masuk, tentu ada jalan keluar,” ucap salah seorang peserta pelatihan. Kalimat itu muncul di tengah sesi refleksi.

Singkat, tetapi kuat. Masa pembinaan bukan akhir perjalanan, melainkan ruang untuk menyiapkan jalan pulang yang lebih sehat, terarah, dan mandiri.

Bebas Kelak Membutuhkan Lebih dari Satu Bekal

Di Lapas Perempuan Kelas IIA Sungguminasa, warga binaan mengikuti berbagai kegiatan pembinaan dan kerja. Mereka menghasilkan tas, pakaian, olahan makanan, hingga produk pertanian.

Keterampilan produksi tentu penting. Namun, produk yang baik belum otomatis menemukan pembeli.

Pada saat yang sama, kepulangan ke masyarakat dapat disertai berbagai tekanan, seperti rasa bersalah, kekhawatiran terhadap stigma, keraguan pada diri sendiri, hingga kecemasan mengenai pekerjaan dan masa depan.

Asesmen kebutuhan yang dilakukan sebelum program memperlihatkan persoalan tersebut secara nyata. Sebanyak 70 persen responden melaporkan mengalami stres, 70 persen mengkhawatirkan pandangan masyarakat setelah bebas, dan 80 persen merasa tertekan oleh stigma terhadap mantan warga binaan.

Data tersebut tidak digunakan untuk memberi label kepada peserta, melainkan menjadi dasar untuk menentukan bentuk dukungan yang benar-benar mereka butuhkan.

Dalam psikologi, kemampuan membaca keadaan secara realistis, mengelola emosi, mengatasi tekanan, mempertahankan citra diri yang sehat, dan membangun hubungan positif merupakan bagian dari penyesuaian psikologis (psychological adjustment).

Ketika kemampuan tersebut melemah, keterampilan kerja yang telah dimiliki pun dapat sulit berkembang. Seseorang mungkin mampu membuat produk, tetapi belum cukup percaya diri untuk memperkenalkannya, menghadapi penolakan, atau mencoba kembali setelah mengalami kegagalan.

Mengapa Mental dan Pemasaran Perlu Dilatih Bersama?

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Tim Empower merancang pelatihan Entrepreneurial Mental Toughness. Istilah ini bukan ajakan untuk menekan emosi atau selalu terlihat kuat.

Ketangguhan mental kewirausahaan berarti kemampuan untuk tetap fokus, termotivasi, lentur, dan bertanggung jawab ketika menghadapi tekanan serta ketidakpastian. Emosi tetap dikenali dan diterima, tetapi tidak dibiarkan mengambil alih seluruh keputusan.

Sementara itu, kecakapan pemasaran (marketing skills) dipahami lebih luas daripada sekadar menawarkan barang.

Peserta belajar mengenali siapa calon pembeli, masalah apa yang dapat diselesaikan oleh produk, nilai apa yang membedakannya, bagaimana menentukan harga yang masuk akal, saluran penjualan yang sesuai, serta cara membangun kepercayaan konsumen.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *