Soal Klarifikasi Pencantuman Nama Presiden Prabowo di Pengajuan Nobel, Berly Martawardaya Ungkap 2 Poin Penting

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA — Dosen Ilmu Ekonomi sekaligus Ekonom, Berly Martawardaya kembali bicara soal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikaitkan dengan pengajuan Nobel Perdamaian 2026.
Yang paling disorot dari hal ini tentunya terkait hadirnya nama Presiden Prabowo Subianto dalam pengajuan Nobel Perdamaian 2026 memang jadi suatu masalah.
Lewat unggahan di akun media sosial X pribadinya, Berly Martawardaya menyebut sudah ada klarifikasi soal pencantuman nama Presiden Prabowo sebagai penulis paper tersebut.
“Sudah ada klarifikasi dari orang yg cantumkan nama Presiden Prabowo sbg penulis paper ttg MBG dan menominasikan ke seleksi Nobel Perdamaian,” tulis Berly dikutip Jumat (7/8/2026).
Dari klarifikasi ini, ia mengungkap ada dua poin penting yang bisa diambil atau ditarik soal hal ini.
Pertama soal tidak adanya izin langsung bahkan sampai persetujuan dari Presiden Prabowo untuk pencantuman namanya dalam karya tersebut.
Dan poin kedua dan bisa dikatakan ini sangat penting soal Kemdagri dan IPDN yang dipastikan tidak terlibat dalam karya tersebut.
“Point pentingnya (1) tidak pernah izin dan/atau dapat persetujuan Presiden Indonesia dan Presiden Prancis buat cantumkan nama. (2) Kemdagri dan IPDN tidak terlibat,” tuturnya.
Sebelumnya, sebuah paper setebal 69 halaman berjudul Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth menjadi perbincangan di media sosial.
Paper tersebut diunggah ke SSRN pada 31 Maret 2026 dan mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai penulis pertama bersama sembilan penulis lainnya.
Keberadaan paper itu pertama kali ramai setelah diunggah akun X @TxtdariiUGM.
“Nemu paper salah satu authornya @prabowo, papernya sebagai ajuan Program MBG untuk diajukan dalam Nobel Perdamaian 2026,” tulis akun tersebut.
Dari unggahan ini menyoroti terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan paper, termasuk adanya desain yang diduga dibuat menggunakan AI dan sisa prompt yang disebut belum dihapus.
Akun tersebut bahkan mengklaim hasil pemeriksaan menggunakan AI detector menunjukkan tingkat deteksi hingga 93 persen.
Paper itu mencantumkan sepuluh penulis, yakni Prabowo Subianto (Presiden Republik Indonesia), Prof. Dr. Dian Damayanti (European Alliance for Innovation dan Universitas Borobudur Jakarta), Ashar Sunarso (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), Norhidayah Azman (Management and Science University), Iwan Iwan (Universitas Negeri Jakarta), Prof. Dr. Ir. Gimbal Doloksaribu (Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta), Prof. Dr. Cicih Ratnasih (Universitas Borobudur Jakarta), Mansuri (Universitas Borobudur Jakarta), dan Dr. Sugiyanto Saleh (Universitas Borobudur Jakarta).
Source link
