News

Preciosa Kanti Sebut Posisi Politik Jokowi Semakin Terdesak, Soroti Polemik Ijazah, Gelar Adat, dan Hubungan dengan Prabowo



PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Pegiat media sosial Preciosa Kanti menilai posisi politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) semakin tertekan di tengah berbagai polemik yang terus bergulir, mulai dari isu dugaan ijazah palsu hingga kontroversi pemberian gelar adat di sejumlah daerah.

Menurut Preciosa, berbagai isu tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang dinilainya mempersempit ruang gerak Jokowi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Ia juga menyinggung munculnya kritik terhadap pemerintahan Jokowi serta berbagai polemik yang masih menjadi perhatian publik.

“Posisi Jokowi di dunia politik semakin tersudut,” ujar Preciosa, dikutip fajar.co.id, Selasa (4/8/2026).

Ia kemudian melanjutkan pandangannya dengan menyinggung sejumlah persoalan yang menurutnya memengaruhi posisi politik mantan kepala negara tersebut.

“Polemik ijazah palsu dan semakin terbukanya borok indikasi korupsi, dusta, dan kegagalan di jaman pemerintahannya,” lanjutnya.

Selain itu, Preciosa juga menyoroti hubungan politik antara Jokowi dan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, relasi keduanya tidak lagi seerat sebelumnya.

“Belum lagi keretakan hubungan dengan Prabowo. Tangan-tangannya mulai dipatahkan satu per satu,” tukasnya.

Preciosa turut mengaitkan pandangannya dengan sejumlah gelar adat yang belakangan diterima Jokowi di berbagai daerah. Ia menduga pemberian gelar tersebut berkaitan dengan upaya membangun dukungan politik.

“Untuk itulah dia butuh bala riuh di belakangnya. Untuk itu pula dia harus menjadi raja di mana-mana,” tutur Preciosa.

“Supaya jika sang raja tersakiti maka akan ada ribuan orang yang diharapkan akan merasa tersakiti juga,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menyinggung polemik yang muncul terkait pemberian gelar adat kepada Jokowi. Menurutnya, terdapat penolakan dari sebagian tokoh adat terhadap pemberian penghargaan tersebut.

“Ijazah, digugat. Gelar Baginda-Lampung, diprotes para pemuka. Gelar Raja NTT, ditolak. Hidup di atas kebohongan dan terus menerus mengakali kebenaran Jokowi,” tegasnya.

Preciosa juga menyampaikan kritik terhadap dinamika yang menurutnya melibatkan masyarakat kecil.

“Mirisnya, memakai tangan rakyat sederhana untuk memvalidasi dan glorifikasi rencana. Manipulasi dan iming-iming di atas harapan rakyat kecil! Petaka negara!,” kuncinya.

Sementara itu, polemik mengenai gelar adat Jokowi sebelumnya juga mendapat klarifikasi dari Dominicus Kloit Teiseran, Raja Liurai Malaka ke-15, Kerajaan Malaka Wehali, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dominicus menegaskan bahwa informasi yang menyebut Jokowi diangkat sebagai Raja Timor tidak tepat. Menurutnya, penghargaan yang diberikan kepada Jokowi adalah sebagai Sesepuh di Timor, bukan sebagai raja.

“Jadi kalau orang bilang Jokowi raja di Timor, lalu kami raja sebagai apa? di NTT sudah ada struktur Raja Adat,” ucapnya.

“Jadi Jokowi bukan diangkat jadi Raja melainkan penghargaan yang diberikan adalah Sesepuh di Timor,” tambahnya.

Polemik mengenai ijazah dan pemberian gelar adat kepada Jokowi hingga kini masih menjadi perhatian publik serta memunculkan beragam pandangan dari berbagai pihak.

(fajar)



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *