Said Didu Nilai Kondisi Indonesia Kini Sangat Berbeda dengan 1998

PORTALUTAMA.NET, JAKARTA – Aktivis sosial Muhammad Said Didu menilai situasi politik dan ekonomi Indonesia saat ini berbeda jauh dibandingkan kondisi menjelang kejatuhan Presiden Soeharto pada 1998.
Karena itu, ia meyakini skenario gejolak yang berujung pada pergantian kekuasaan seperti pada Reformasi 1998 sulit terulang di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Said Didu, terdapat sejumlah faktor mendasar yang membuat kondisi saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis yang terjadi hampir tiga dekade lalu.
Kondisi 1998 dan Sekarang Berbeda
Said Didu mengaku memiliki pengalaman langsung saat Reformasi 1998 berlangsung sehingga memahami situasi ketika itu.
“Kondisi 1998 sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Saya bisa ceritakan karena tahun 1998 saya berada di pusat gejolak sebagai anggota DPR/MPR dan pejabat eselon II di pemerintahan,” ujar Said Didu, dikutip fajar.co.id, Senin (3/8/2026).
Ia kemudian memaparkan sejumlah perbedaan mendasar antara kondisi 1998 dan situasi saat ini.
Bahan Pokok hingga Struktur Utang
Menurut Said Didu, salah satu perbedaan paling mencolok adalah ketersediaan bahan pokok.
“Pada 1998 bahan pokok langka serta stok dan impor dikuasai oligarki. Sekarang berlebih dan stok dikuasai pemerintah,” katanya.
Ia juga membandingkan struktur utang pemerintah pada kedua periode tersebut.
“Tahun 1998 sekitar 80 persen utang adalah luar negeri sehingga membutuhkan dolar untuk membayar. Sekarang sekitar 80 persen merupakan utang dalam negeri sehingga tidak membutuhkan banyak dolar untuk pembayarannya,” ujarnya.
Ekonomi Global hingga Mobilisasi Massa
Said Didu juga menilai kondisi ekonomi global saat ini lebih stabil dibandingkan ketika krisis Asia melanda pada 1998.
“Pada 1998 terjadi gejolak ekonomi dunia. Saat ini kondisi relatif stabil dan gejolaknya bukan karena masalah ekonomi, tetapi konflik perang Amerika Serikat dan Iran,” tuturnya.
Ia juga menilai telah terjadi pergeseran pusat kekuatan ekonomi dunia.
“Pada 1998 terjadi sistem unipolar dengan Amerika Serikat sebagai pusat kekuatan dunia. Sekarang sudah multipolar sehingga memberikan keseimbangan kekuatan,” lanjutnya.
Selain itu, ia menyebut kondisi ekonomi masyarakat bawah relatif lebih baik dibandingkan saat Reformasi, meski kelas menengah bawah di perkotaan masih perlu mendapat perhatian.
Said Didu juga menilai pola mobilisasi massa saat ini jauh berbeda.
“Pada 1998 aliran dana sponsor gerakan massa sulit dideteksi. Sekarang bisa dipantau secara real time sehingga sponsor lebih berhati-hati, kecuali melalui media sosial,” katanya.
Source link
