Melalui Nanoteknologi, Mencerahkan Negeri – FAJAR

Oleh: dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D.
Alumnus PhD dari IPCTRM Taipei Medical University Taiwan, WWPO Peace Ambassador untuk Indonesia, dokter riset, dosen, peneliti, penulis, kolumnis, reviewer jurnal ilmiah internasional, trainer berlisensi BNSP, komunikator sains, pelopor NiBTM.
PORTALUTAMA.NET, Di ruang laboratorium, masa depan sering lahir dalam ukuran yang tidak tampak oleh mata. Ia tidak selalu datang sebagai gedung pintar, robot besar, atau mesin raksasa. Kadang ia hadir sebagai partikel halus. Lebih kecil dari debu. Lebih sunyi dari suara jarum jatuh. Namun, ia dapat mengubah cara obat bekerja, kulit dilindungi, air dimurnikan, energi disimpan, dan penyakit dikenali sejak dini.
Itulah nanoteknologi. Ilmu ini bekerja pada skala sekitar 1 sampai 100 nanometer. Satu nanometer adalah satu per satu miliar meter. Pada ukuran itu, benda dapat memperlihatkan sifat baru. Emas dapat berubah warna. Partikel logam dapat menjadi sensor. Titanium dioksida dapat menjadi bahan tabir surya yang lebih transparan. Nanopartikel lipid, yaitu partikel lemak berukuran sangat kecil, dapat menjadi kendaraan pembawa pesan genetik dalam vaksin modern.
Nanoteknologi mengajarkan satu hal penting. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Riwayat Penafsir Atom
Sejarah nanoteknologi bermula dari keberanian manusia membaca dunia pada tingkat paling kecil. Pada 1959, fisikawan Richard Feynman menyampaikan gagasan tentang kemungkinan memanipulasi materi pada skala atom. Pada 1974, Norio Taniguchi memperkenalkan istilah “nanotechnology”. Pada dekade berikutnya, gagasan rekayasa molekuler semakin dikenal melalui pemikiran Eric Drexler.
Namun, alam telah lebih dahulu menjadi guru. DNA menyimpan informasi genetik dalam struktur molekuler. Protein bekerja seperti mesin biologis. Ribosom menerjemahkan pesan genetik menjadi protein. Membran sel mengatur lalu lintas zat dengan sangat tertib. Tubuh manusia adalah perpustakaan nanomaterial yang hidup.
Filosofi nanoteknologi tidak sekadar mengecilkan ukuran. Ia menata ulang hubungan antara bentuk, fungsi, permukaan, muatan listrik, kelarutan, dan interaksi biologis. Pada skala nano, permukaan menjadi sangat penting. Partikel kecil memiliki luas permukaan relatif besar. Karena itu, ia lebih mudah berinteraksi dengan sel, protein, gen, dan jaringan tubuh.
Partikel Menjadi Utusan
Dalam kedokteran, nanoteknologi memberi harapan bagi terapi yang lebih presisi. Obat konvensional sering beredar seperti hujan yang jatuh ke seluruh kota. Nanomedicine, atau kedokteran berbasis nanoteknologi, berusaha mengubah hujan itu menjadi irigasi yang diarahkan. Obat tidak hanya dikirim. Obat dibungkus, dilindungi, diantar, lalu dilepaskan di tempat yang lebih tepat.
Source link
